Selain sebagai stimulan bagi desa-desa sekitar untuk aktif dan kreatif dalam melestarikan adat kebudayaan, melalui kebersamaan kegiatan ini diharapkan dapat mewujudkan lingkungan masyarakat yang harmonis.
Kedes Selotapak, Agus Sugiono, mengatakan, kekayaan dan keanekaragaman budaya dalam masyarakat patut dilestarikan.
Sehingga kekayaan ini tetap menjadi aset bangsa yang membanggakan. ’’Melalui ruwat desa ini menjadi wujud dan bukti kesadaran kita menghargai adat istiadat dan budaya,’’ ungkapnya.
Dalam kegiatan ruwat Desa Selotapak ini terdapat enam ancak atau gunungan yang telah dibuat oleh warga yang nantinya akan diperebutkan oleh warga. Biasanya ancak ini berisi hasil bumi, jajanan, dan minuman.
Dalam Ruwat Desa Selotapak kali ini cukup unik. Di antara nasi kotak yang ada pada ancak atau gunung terdapat suatu tulisan yang nanti bisa ditukarkan dengan hadiah mini gold.
Kegiatan ini tak lain sebagai stimulan bagi desa-desa sekitar untuk aktif dan kreatif dalam menjaga adat kebudayaan. Melalui kebersamaan kegiatan ini diharapkan mampu mewujudkan lingkungan masyarakat yang harmonis.
’’Jadi ini sarana kami menjalin kebersamaan dan keakraban antarwarga di Desa Selotapak,’’ tuturnya.
Ruwah desa yang berlangsung di halaman pendopo Balai Desa Selotapak, turut dihadiri Bupati Mojokerto, Ikfina Fatmawati. Ikfina mengapresiasi warga Desa Selotapak atas kekompakannya dalam memeriahkan acara ruwah desa yang diikuti sebanyak 7.000 warga Desa Selotapak.
’’Terima kasih guyub rukunnya seluruh warga berpartisipasi, mengeluarkan hartanya untuk disedekahkan untuk membersihkan diri, keluarga, dan seluruh harta yang dimiliki,’’ ungkapnya.
Ruwat desa ini merupakan kegiatan adat yang mencerminkan kebersamaan dan rasa syukur atas rahmat yang telah diberikan Allah SWT dan dilaksanakan satu bulan sebelum menyambut bulan Ramadhan.
’’Ini bagian dari bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas rezeki, kesehatan serta untuk membersihkan diri dari nasib buruk sebelum menyambut bulan suci Ramadhan,’’ tegasnya. (ori/fen)
Editor : Fendy Hermansyah