Kepala Dinas PUPR Kabupaten Mojokerto, Rinaldi Rizal Sabirin menegaskan, penanganan infrastruktur yang berdampak pada bencana banjir akan menjadi prioritas pembangunan tahun ini.
Apalagi, bencana alam yang dapat merusak infrastruktur jalan, jembatan maupun irigasi di areal persawahan sehingga berpotensi merugikan masyarakat.
’’Sesuai arahan ibu bupati, kita harus selalu antisipatif dan peduli terhadap penanganan bencana. Makanya, tahun ini kita mendapatkan alokasi anggaran untuk penanganan bencana, terutama banjir,’’ ungkapnya.
Anggaran yang dikucurkan juga tidak sedikit atau capai Rp 15 miliar dan yang terbagi dalam 19 paket proyek. Alokasi itu untuk perbaikan infrastruktur di daerah langganan banjir. Meliputi bendungan, tanggul, hingga saluran drainase.
Rinaldi mengungkapkan, penanganan banjir memang tidak mudah. Namun perlu keseriusan dan biaya besar.
’’Banjir tidak bisa dihilangkan, tapi bisa diminimalisir dampaknya. Kita bertekad, yang dulunya banjir bertahan berhari-hari, berminggu-minggu, itu kita berusaha dengan penanganan kita supaya dalam hitungan jam banjir sudah surut,’’ paparnya.
Kabid Kabid Sumber Daya Air (SDA) Rois Arif Budiman menambahkan, alokasi anggaran untuk penanganan banjir tersebut terbagi pada 19 paket pengerjaan. Baik untuk rehabilitasi atau pembangunan infrastruktur baru.
’’Dari 19 kegiatan itu, salah satunya perbaikan Dam Desa Wonodadi, Kecamatan Kutorejo yang rusak terdampak banjir tahun lalu. Saat ini masih proses agar segera terealisasi,’’ ungkapnya.
Pihaknya mengaku juga tengah berkolaborasi dengan BBWS Brantas terkait perbaikan tanggul sungai yang menjadi wewenang pemerintah pusat. Selain untuk penanganan darurat juga untuk perbaikan permanen yang nantinya bakal dilakukan secara bertahap.
Sebelumnya, pihaknya juga melakukan mitigasi tanggul sungai yang alami kritis di tengah musim hujan sekarang ini.
Hasilnya, sebanyak 20-an titik berhasil diidentifikasi dan rawan terjadi banjir. Di lapangan ditemukan banyak tanggul yang kondisinya memang memprihatinkan.
Selain belum sepenuhnya konstruksi beton, di beberapa titik juga sudah alami pecah-pecah karena termakan usia. Seperti yang ada di tanggul longsor yang mengancam rumah warga di Dusun Mojogeneng, Desa Sadartengah, Kecamatan Mojoanyar.
Tanggul di samping kanan dan kiri sungai ini cukup membahayakan karena mengancam rumah penduduk. Termasuk, tanggul sungai di Desa Kebondalem, Kecamatan Mojosari.
’’Jadi, sekarang mungkin sudah ada 20-an titik yang kami mitigasi bersama BBWS. Karena beberapa sungai menjadi wewenang BBWS, untuk penanganannya nanti kita kolaboratif. Dan kemungkinan masih ada tambahan lagi,’’ tegasnya. (ori/ron)
Editor : Fendy Hermansyah