BPBD menilai, tebing curam yang mengapit jalan penghubung desa tersebut rawan longsor. Papan imbauan dipasang di lokasi agar pengguna jalan tidak berhenti di antara kedua tebing.
’’Setelah kami cek ternyata memang lokasi ini sangat rawan longsor,” terang Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Mojokerto Abdul Khakim, usai melakukan asesmen, Minggu (18/2).
Menurutnya, longsor yang terjadi pada Jumat (16/2) dini hari tersebut terjadi karena sejumlah aspek. Salah satunya, hujan lebat yang mengguyur lokasi beberapa hari sebelumnya.
’’Karena tidak ada penahannya (tebing). Pelengsengan pun cuma di bagian bawah saja. Padahal tebingnya tinggi dan curam,’’ bebernya.
Guna mengantisipasi terjadinya hal yang tidak diinginkan petugas memasang papan imbauan bagi pengguna jalan. Agar tidak berhenti di sepanjang ruas jalan penghubung Desa Kunjorowesi-Manduro Manggunggajah yang membelah bukit berbatu tersebut.
’’Sementara kita lakukan mitigasi dengan pemasangan dua papan imbauan. Satu dari arah Manduro dan satu lagi dari Kunjorowesi. Karena memang di sana bisa terjadi longsor sewaktu-waktu,’’ papar Khakim.
Batuan cadas sisa longsoran, lanjut Khakim, bakal digunakan material plengsengan tebing.
’’Material tanah sudah dievakuasi warga, tinggal bebatuan besar saja. Sudah kami koordinasikan dengan tokoh masyarakat setempat. Rencananya batuan besar itu mau dipecah-pecah untuk material plengsengan tebing,’’ tandasnya.
Diberitakan sebelumnya, tebing setinggi 20 meter ini mengalami longsor pukul 00.00 Jumat (16/2). Tidak ada korban lantaran saat terjadi lalu lintas di lokasi sedang sepi.
Material longsor di spot instagramable yang sempat viral di media sosial hingga dijuluki Feeling Good Part 2 ini dievakuasi secara manual oleh warga.
Diduga, longsor terjadi akibat tingginya intensitas hujan yang mengguyur di lokasi beberapa hari sebelumnya. (vad/fen)
Editor : Fendy Hermansyah