Di desa tersebut, beragam barang limbah dan barang bekas yang dihasilkan masyarakat, disulap menjadi sebuah potensi yang memiliki nilai wisata dan ekonomi.
Kepala Desa Talok Khoirul Anwar mengatakan, sebagian besar masyarakat di Desa Talok berlatarbelakang sebagai pengepul barang rongsokan.
Tak jarang, banyak masyarakat dari luar daerah mencari barang atau onderdil bekas di desa enam dusun ini.
’’Karena saking lengkapnya, dari dulu sering jadi jujukan warga luar daerah hanya untuk mencari barang bekas. ada yang dari Surabaya bahkan Kalimantan juga,’’ katanya.
Menangkap peluang itu, pihaknya mulai mencanangkan adanya pasar loak di kawasan Desa Talok. Saat ini, tahapnya masih dalam perencanaan.
Kendati demikian, pihaknya juga sudah merancang skema gedung pasar loak Desa Talok.
’’Konsepnya semacam kios, nanti dibangun di lapangan Desa Talok. Saat ini masih tahap perencanaan,’’ katanya.
Menurut Khoirul, keberadaan pasar loak ini bisa menambah pendapatan asli desa (PAD) dan mengembangkan unit usaha BUMDes.
Saat ini, BUMDes Talok sendiri telah menjalankan tiga bidang unit usaha meliputi, sektor peternakan ayam petelur, toko kelontong dan toko alat tulis kantor (ATK).
’’Diharapkan ini bisa menambah pendapatan bagi desa dan menjadikan Desa Talok sebagai ikon pasarnya barang bekas di Mojokerto,’’ ungkap dia.
Rencananya, sambung Khoirul, pembangunan pasar loak akan dirintis mulai tahun depan.
Dia memaparkan, wacana pembangunan pasar ini harus digodok secara matang agar bisa berjalan dan berkembang.
’’Karena nanti manfaatnya juga untuk kesejahteraan warga, di tahun pertama nanti kita bangun berapa kios nanti terus berlanjut. Ini bisa menjadi solusi perluasan lapangan kerja masyarakat desa,’’ pungkasnya. (oce/fen)
Editor : Fendy Hermansyah