Tak sekadar menjadi ikon, nilai histori dari tokoh berjuluk putra sang fajar ini juga dikembangkan untuk menyokong ekonomi masyarakat dari sektor pariwisata.
Lurah Purwotengah M. Rifa’i mengungkapkan, upaya Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari untuk menghidupkan sejarah masa kecil Soekarno membawa dampak terhadap meningkatnya kunjungan di Kelurahan Purwotengah.
Salah satu yang menjadi jujukan adalah SDN Purwotengah yang dulu pernah menjadi tempat mengenyam pendidikan dari sang proklamator di jenjang sekolah dasar.
Wisatawan tak hanya datang dari tingkat lokal dan regional, tetapi kunjungan juga datang dari tamu-tamu nasional.
”Dari kementerian maupun dari provinsi saat ini sering meninjau ke SDN Purwotengah,” terangnya.
Bahkan, pada kegiatan Jambore Pemuda Internasional 2023, lembaga yang dulu dikenal sebagai Sekolah Ongko Loro ini juga menjadi salah satu destinasi yang dikunjungi di Kota Mojokerto.
SDN Purwotengah masih berpotensi untuk terus disinggahi pelancong.
Mengingat, bangunan yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat kota ini kini juga bakal dikembangkan menjadi Galeri Soekarno Kecil dari hasil kolaborasi Pemkot Mojokerto dengan Kemendikbudristek RI.
”Galeri Soekarno ke depan dipersiapkan untuk daya tarik wisata berbasis sejarah dan budaya,” tandasnya.
Untuk menyambutnya, Kelurahan Purwotengah juga telah membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).
Melalui wadah tersebut, tutur Rifa’i, masyarakat dilibatkan secara aktif untuk mendukung sektor wisata.
Salah satunya dengan memberi pemahaman dan pembekalan untuk menyambut kunjungan wisatawan.
”Kalau sudah dikenal luas, warga kan bisa jualan suvenir atau oleh-oleh khas lainnya. Tujuannya untuk meningkatkan ekonomi masyarakat,” papar dia.
Terlebih, dari 7 titik prasasti yang dibangun sebagai tapak tilas dari tokoh bernama asli Koesno di Kota Mojokerto, 3 di antaranya berada di Kelurahan Purwotengah.
Selain di SDN Purwotengah, tetenger dari putra pasangan Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai ini juga berada di SMPN 2 Mojokerto di Jalan A. Yani.
Lembaga pendidikan yang pada masa kolonial bernama Europe Lagere School (ELS) ini menjadi sekolah Soekarno setelah memutuskan pindah dari sekolah pribumi di SDN Purwotengah.
Selain jejak pendidikan, Kelurahan Purwotengah juga menyimpan sejarah sebagai tempat tinggal dari keluarga Soekarno.
Bekas rumah sewa di Jalan Residen Pamudji yang dihuni pada 1910-1917 itu kini juga telah ditandai dengan prasasti.
”Harapannya dengan sejarah Soekarno bisa membawa dampak kesejahteraan bagi warga di Kelurahan Purwotengah,” pungkasnya. (ram/ron)
Editor : Fendy Hermansyah