Hujan anomali itu seperti yang terjadi kemarin (30/6). Hampir seluruh wilayah di Kota dan Kabupaten Mojokerto mulai diguyur hujan sekitar pukul 16.00. Hujan dengan intensitas ringan itu berlangsung kurang lebih satu jam. ’’Ini anomali cuaca,’’ kata Agen Informasi Bencana BPBD Jatim Achmad Kurniawan.
Berdasarkan informasi BMKG, jelasnya, hujan akan berlangsung sampai sepekan ke depan. Kondisi demikian terjadi akibat adanya anomali cuaca yang menyebabkan hujan di tengah musim kemarau. Kondisi ini hampir terjadi secara menyeluruh di wilayah Jawa Timur. Di Mojokerto, intensitas hujan rata-rata ringan sampai sedang. ’’Dan durasinya juga tidak lama, hanya 1-2 jam,’’ imbuhnya.
Kondisi hujan itu dengan intensitas tinggi utamanya terjadi di wilayah pesisir pantai selatan Jawa seperti Kabupaten Lumajang. Achmad mengungkapkan, kondisi hujan ini tidak ada berlangsung secara berkepanjangan. Sebab, saat ini sedang berlangsung periode musim kemarau. Bahkan, puncak musim kemarau pun masih diprediksi Agustus nanti.
Dirinya minta, masyarakat tetap mewaspadai potensi dampak anomali cuaca selama selama sepekan. Seperti peristiwa angin kencang hingga pohon tumbang. ’’Masyarakat tetap harus selalu waspada terkait potensi apapun meskipun intensitasnya termasuk rendah,’’ tandasnya.
Kalaksa BPBD Kabupaten Mojokerto Yo’ie Afrida Soesetyo Djati mengungkapkan, hujan yang terjadi di wilayah Mojokerto disebabkan adanya faktor konvektif lokal. Yakni situasi awan yang bergerak secara vertikal di atmosfer. Kondisi itu berkaitan dengan topografi wilayah Mojokerto yang meliputi dataran tinggi dan rendah. ’’Jadi berdasarkan keterangan dari BMKG, hujan periodik yang terjadi lebih karena faktor konvektif lokal,’’ jelasnya. (adi/fen)
Editor : Fendy Hermansyah