Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Mojokerto Djoko Supangkat mengatakan, fenomena el nino menjadi penyebab utama cuaca panas melanda kawasan Indonesia, termasuk Mojokerto. Dimana, cuaca yang disebabkan pemanasan Suhu Muka Laut (SML) di atas kondisi normalnya itu membuat suhu udara bisa mencapai 37 derajat celcius.
Tak hanya suhu maksimal, durasi akibat gelombang el nino itu juga diprediksi bakal berlangsung lama. Dari normalnya enam bulan menjadi tujuh bulan, atau terhitung mulai Mei hingga November mendatang. ’’Berdasarkan keterangan resmi yang kami terima BMKG, masa musim kemarau bakal lebih panjang karena ada keterlambatan dan dari musim hujan sebelumnya,’’ terangnya.
Dengan suhu dan durasi maksimal itu, Joko tak mengelak bakal muncul dua bencana sebagai dampaknya, yakni kebakaran hingga kekeringan. Khusus untuk karhutla, pihaknya sudah memitigasi sejumlah kawasan yang berpotensi terjadi kebakaran hutan secara tiba-tiba. Khususnya hutan hujan tropis yang terbentang di Kawedanan Jabung, mulai dari Jatirejo, Gondang, Pacet, hingga Trawas. Lahan hutan di empat kecamatan ini ditengarai berpeluang hangus terbakar jika tidak disiagakan sejak awal.
’’Sesuai pengalaman kemarau di tahun-tahun sebelumnya, karhutla seringkali muncul karena dipicu suhu panas yang menghanguskan vegetasi yang mengering,’’ tandasnya. Pun demikian dengan bencana kekeringan, sejumlah desa di Mojokerto, khususnya di Kecamatan Ngoro dan Trawas diprediksi masih akan terjadi tahun ini.
Di mana, mata air mengering membuat warga kesulitan mendapat pasokan air bersih. Khususnya di Desa Kunjorowesi dan Manduro Manggung Gajah Kecamatan Ngoro serta di Desa Duyung Kecamatan Trawas. ’’Tiga desa itu belum bisa teraliri air bersih saat kemarau. Sampai tahun lalu, masih mengandalkan droping air bersih dari bawah,’’ pungkasnya. (far/ron)
Editor : Fendy Hermansyah