Kabid Dalops dan Perparkiran Dishub Kota Mojokerto, Warsono mengakui, keberadaan parkir saat ini banyak yang tidak terkoordinir. Khususnya di pusat-pusat perbelanjaan mulai kawasan Jalan Mojopahit, Jalan Bhayangkara, hingga Benteng Pancasila. Selain ramai-ramai memanfaatkan momentum jelang Lebaran, minimnya jukir resmi binaan dishub juga menjadi salah satu penyebab maraknya praktik parkir liar. ’’Terus terang saja, jukir kami yang resmi hanya ada 140 orang di 90 titik parkir berlangganan. Untuk mengatur kendaraan dan lalu lintas di jalan seputar kota, masih kewalahan. Sementara yang parkir liar, tidak bisa dihitung dan dikoordinir,’’ terangnya.
Tidak hanya liar, sejumlah praktik parkir juga kerap memanfaatkan badan jalan demi meraup untung sebanyak-banyaknya. Bahkan, ditemukan beberapa ruas parkir hingga lebih dari baris motor.
Tak hanya itu, beberapa praktik parkir juga menarik retribusi yang memberatkan pengunjung. Yakni lebih dari Rp 2 ribu untuk motor dan Rp 5 ribu untuk roda empat. Nah, temuan ini bakal ia sikapi untuk mengurai kemacetan.
Khususnya di jalan-jalan pusat perniagaan yang biasa menjadi jujugan belanja masyarakat untuk kebutuhan Lebaran. ’’Besok (hari ini, Red) kami akan koordinasi bersama Satlantas Polres Mojokerto Kota untuk bentuk penindakannya. Sabtu (8/4) kemarin, penindakan sifatnya dadakan permintaan dari Kapolres,’’ tandasnya.
Selain penindakan parkir liar, rekayasa arus juga terpaksa dilakukan satlantas guna mengurai kemacetan. Seperti di simpang tiga Jalan PB Sudirman atau pertemuan arus dari Swalayan Sanrio (timur) dan Superindo (barat) yang terpaksa dijadikan satu arah dan sama-sama dibuang ke utara Jalan PB Sudirman. Pengalihan ini untuk mengatasi keruwetan di tengah tingginya pengunjung di dua swalayan. ’’Di Jalan Mojopahit, ruas parkir motor maksimal dua baris. Sementara di Jalan Bhayangkara, sudah dipasang water barier untuk mengalihkan arus ke jalan PB Sudirman,’’ pungkasnya. (far/ron)
Editor : Fendy Hermansyah