PACET, Jawa Pos Radar Mojokerto – Kecelakaan akibat rem blong di Jalur Pacet–Cangar, Desa/Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, seolah tak ada habisnya. Usai kejadian mobil Avanza terjun ke jurang Sabtu (14/1), kemarin kembali terjadi dua insiden rem blong yang dialami empat pemotor. Meski begitu, Dishub Provinsi Jawa Timur belum bisa berbuat banyak. Terutama soal pembenahan jalur penyelemat sesuai standar di jalan provinsi tersebut.
Sepanjang kemarin, Welirang Community Rescue mencatat telah terjadi dua insiden kecelakaan tunggal akibat gagal fungsi sistem pengereman. Sekitar pukul 09.10 dua pengendara motor matic asal Kabupaten Trenggalek mengalami terpaksa masuk ke jalur penyelamat Tikungan Gotekan akibat rem blong. Kemudian, sekitar pukul 10.43, jalur penyelamat Tikungan Gotekan kembali dihantam dua pengendara motor matic yang mengalami rem blong dari arah Kota Batu.
”Sehari ini (kemarin) ada dua kejadian rem blong di Jalur Penyelamat Gotekan. Ada dua pengendara yang mengalami luka ringan dan syok. Sehingga harus dievakuasi ke RSUD Sumberglagah untuk penanganan medis. Sedangkan dua korban lainnya tanpa cedera,” ujar Made Zakaria, anggota Welirang Community Rescue.
Dua indisen tersebut melengkapi rentetan peristiwa kecelakaan akibat rem blong di jalur alternatif Mojokerto–Batu tersebut. Sehari sebelumnya, dua orang mengalami luka berat dan lima orang mengalami luka ringan setelah mobil Toyota Avanza bernopol W 1397 TU yang ditumpangi terjun ke jurang akibat rem blong.
Dinding sekam jalur penyelamat rest area jebol usai dihantam minibus yang ngeblong tersebut. Walau begitu, hingga kini Dinas Perhubungan Jawa Timur dan stakeholder terkait masih belum bisa berbuat banyak untuk merombak tiga jalur penyelamat di wilayah Pacet yang belum sesuai standar tersebut.
”Sudah berkali-kali kami usulkan untuk pembangunan jalur penyelamat yang sesuai standar di sana. Tapi, sampai sekarang belum ada tanggapan. Mungkin pemprov dan gubernur belum memprioritaskan jalur Pacet–Cangar ini,” ungkap Kepala UPT P3 LLAJ Mojokerto Yoyok Kristyowahono, kemarin.
Pihaknya tak menampik, jika selama ini tiga jalur penyelamat di jalur tengkorak tersebut masih belum sesuai standar. Utamanya, lanjut Yoyok, panjang dan material lantai jalur penyelamat. Sejauh ini, lantai dan dinding jalur penyelamat mengandalkan sekam. Padahal, bahan organik tersebut semakin padat saat terus diguyur hujan. ”Dindingnya tidak apa-apa dari sekam. Kalau lantai, mestinya bukan dari sekam tapi pasir apung supaya putaran roda bisa berkurang drastis. Dan panjang jalurnya dari titik nol jalan, supaya lebih aman, dibuat sampai sekitar 200 meter dengan posisi naik (lebih tinggi dari permukaan jalan),” terangnya.
Diakuinya, hal tersebut butuh pembebasan lahan yang cukup luas. Namun, dengan begitu fatalitas kecelakaan akibat rem blong dapat ditekan. ”Memang untuk mengatasi kecelakaan yang ekstrem ini butuh penanganan yang ekstrem pula. Ketika jalur penyelamat dibangun ideal, lantainya dari pasir apung dengan kedalaman sekitar 1-1,5 meter, kami yakin tidak sampai ada fatalitas kecelakaan akibat rem blong,” ucap Yoyok.
Hingga kini UPT P3 LLAJ Mojokerto terus berupaya mendapat atensi Pemrov Jatim untuk melengkapi sarana dan prasarana jalur darurat di jalan provinsi tersebut. Meski saat ini sudah terpasang puluhan rambu peringatan agar pengguna jalan meningkatkan kewaspadaan saat melintas di jalur turunan tersebut. ”Kami bersama kepolisian dan UPT PJJ Mojokerto sudah memasang rambu-rambu di sana. Untuk penanganan jalur penyelamat ini kami terus upayakan agar segera mendapat atensi dari pemprov,” tukasnya. (vad/ron)
Editor : Fendy Hermansyah