Konstruksi halte berukuran sekitar 4x1,5 meter itu masih kokoh. Dengan atap yang masih utuh, halte hanya tampak usang dimakan usia. Sedianya, Halte Brawijaya jadi jujukan sejumlah angkot dan bus kota untuk menurunkan dan mengangkut penumpang.
Namun, beberapa tahun belakangan justru makin sepi. Hingga tidak ada penumpang yang memanfaatkan salah satu sarana dan prasarana angkutan umum tersebut. "Kalau dua tahun aja lebih. Sebelum (pandemi) Covid-19 itu sudah mulai sepi. Nggak ada (penumpang) yang di halte," ungkap Wandi, warga setempat.
Sepinya penumpang seiring dengan lesunya geliat trasportasi publik. Tak pelak, sejak beberapa bulan terakhir halte yang sedianya merupakan tempat perhentian angkutan penumpang itu berubah jadi warung. "Kalau warung itu mungkin belum sampai setahun. Ya mungkin lihat ada tempat sepi (mangkrak), terus dimanfaatkan buat warung itu," sebutnya.
Praktis, hal tersebut dinilai mengganggu pemandangan. Apalagi, warung yang notabene pedagang kaki lima (PKL) itu memakan jalur pedestrian alias trotoar. Belum diketahui pasti Halte Brawijaya merupakan aset pemkab atau provinsi. (vad/fen) Editor : Fendy Hermansyah