Lurah Prajurit Kulon Sucipto Hariyono mengungkapkan, inovasi Gempa Genting dicetuskan untuk menekan angka kasus stunting di wilayahnya. Dalam penerapannya, program tersebut diwujudkan dengan budidaya maggot. ’’Kami dirikan peternakan maggot di kantor Kelurahan Prajurit Kulon mulai dari pengembangbiakan, penetasan telur, pembesaran, hingga panen,’’ terangnya.
Maggot merupakan jenis larva dari lalat hitam atau dikenal dengan black soldier fly (BSF). Sucipto menjelaskan, maggot yang ditetaskan dari telur BSF tersebut memiliki banyak manfaat. Karena larva sangat aktif memakan sampah organik sangat aktif.
Karena itu, setiap warga yang mengurus pelayanan di Kelurahan Prajurit Kulon diimbau untuk membawa segenggam sampah organik untuk pakan maggot. ’’Kami sifatnya tidak memaksa, tapi murni dari kesadaran warga kalau ada sampah organik di rumah sekalian dibawa,’’ ulasnya.
Tak hanya itu, kandungan nutrisi maggot yang tinggi protein juga dimanfaatkan sebagai pakan ikan lele. Sebuah kolam bioflok dengan kapasitas hingga 1.000 ekor lele juga ditempatkan di Kantor Kelurahan. ’’Biar sekalian jadi media edukasi bagi masyarakat secara langsung,’’ terangnya.
Sucipto mengatakan, maggot dijadikan sebagai makanan utama bagi lele-lele tersebut. Dan seluruh hasilnya akan dibagikan sebagai kepada balita stunting sebagai penunjang pemenuhan asupan gizi.
Penyaluran bantuan dilakukan rutin setiap hari Jumat lewat program Samting atau Sambang Stunting. Kunjungan dilakukan bersamaan dengan giat pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan melibatkan lintas sektor. Selain tiga pilar, juga digandeng tokoh masyarakat, tokoh agama, PKK, LPM, RT/RW, hingga puskemas.
Dia menambahkan, inovasi Gempa Genting itu juga berkolaborasi dengan Kelompok Wanita Tani (KWT) Cinde Berseri untuk membantu suplai sayur-sayuran. Selama setahun berjalan, program besutan Kelurahan Prajurit Kulon ini mampu membuahkan hasil positif dengan tidak ada penambahan kasus stunting baru.
Bahkan, sebut Sucipto, dari data 6 kasus stunting yang sebelumnya tercatat di wilayahnya, saat ini sudah berhasil turun hingga tersisa 13 kasus. ’’Jadi, sudah ada perbaikan yang cukup signifikan,’’ tandas lurah yang menjabat sejak Februari 2020 ini.
Karena itu, penerapan inovasi Gempa Stunting rencananya akan diperluas di empat lingkungan se-Kelurahan Prajurit Kulon. Terlebih, maggot juga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak lainnya. ’’Kami sudah edukasi RT/RW agar mau budidaya maggot. Selain bisa membantu mengatasi stunting, juga untuk mengurangi volume sampah rumah tangga,’’ papar dia. (ram/fen)
Editor : Fendy Hermansyah