Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

DPRKP2 Sebut Angkutan Kota di Kabupaten Kalah dengan Motor

Fendy Hermansyah • Rabu, 2 November 2022 | 17:45 WIB
SEPI PENUMPANG: Beberapa angkot tengah menanti penumpang di Simpang Empat Panjer, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto.
SEPI PENUMPANG: Beberapa angkot tengah menanti penumpang di Simpang Empat Panjer, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto.
Kini Hanya Tersisa 60 Armada

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto - Bisa dibilang, angkutan kota (angkot) yang beroperasi di wilayah Kabupaten Mojokerto hampir punah. Setiap tahun jumlahnya terus menurun drastis. Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman dan Perhubungan (DPRKP2) Kabupaten Mojokerto menyebut, disinyalir fenomena ini dipicu mudahnya masyarakat mendapat kendaraan bermotor.

DPRKP2 Kabupaten Mojokerto mencatat, kini hanya terdapat sekitar 60 armada angkot yang memilih untuk bertahan. Puluhan angkot tersebut beroperasi di beberapa trayek. Mulai dari Mojosari-Pacet (MP1); Mojokerto-Mojosari (MM); hingga Mojosari-Krian (MK). Namun, jumlah angkot tersebut berbanding terbalik denagan sebelumnya yang lebih dari 400 armada.

’’Sekarang yang bertahan hanya sekitar 15 persen saja (dari keseluruhan). Jumlahnya semakin minim. Angkot MM misalnya, yang aktif beroperasi mungkin cuma sekitar 4 armada saja,’’ ungkap Kepala Bidang LLAJ DPRKP2 Kabupaten Mojokerto Setyo Budi.

Populasi angkot di Bumi Majapahit kian anjlok saat pandemi melanda. Namun, menurut Setyo, faktor utamanya adalah kemudahan masyarakat mendapat kendaraan bermotor utamanya motor. Ditambah, belum adanya pembatasan kepemilikan kendaraan bermotor. ’’Faktor utamanya adalah mudahnya mendapatkan motor bagi masyarakat. Sehingga, pengguna angkot semakin minim,’’ bebernya.

Pemilik maupun pengusaha angkot mulai berguguran segaris dengan makin minimnya jumlah angkot yang aktif terdaftar pada trayeknya. Sejumlah upaya agar angkot tetap eksis pun dilakukan dishub. Di antaranya menggratiskan biaya izin trayek dan pengawasan izin usaha angkutan. ’’Mulai tahun ini terkait izin trayek dan pengawasan kami gratiskan. Supaya beban pemilik angkot ini tidak semakin berat dan agar angkot tetap beroperasi seperti sebelumnya,’’ sebutnya.

Ali, 66, salah seorang sopir angkot mengatakan, kondisi salah satu transportasi publik ini kian tergerus zaman. Pihaknya hanya mengandalkan penumpang yang mayoritas pelajar dan pedagang pasar. ’’Sekarang pukul 12.00 sudah pulang. Sudah nggak ada penumpang lagi. Sekarang kemana-mana sudah banyak yang bawa motor sendiri,’’ keluh sopir lyn Mojosari-Gempol-Porong (MGP) itu.

Bahkan, saking menurunnya jumlah penumpang dan pendapatan, sejumlah rekannya memilih menjual angkot miliknya. Praktis, hal itu membuat populasi angkot menurun drastis. ’’Banyak yang dijual buat modal usaha lain. Yang bertahan gini ya angkotnya milik sendiri. Sudah nggak ada yang ikut juragan lagi sekarang,’’ tandasnya. (vad/fen)


Editor : Fendy Hermansyah
#pedesaan #kalah #dengan #motor #angkot