
Oleh: Dr HM. Afif Zamroni, Lc, MEI
Staf Khusus Menteri Desa dan PDT
WACANA tentang desa industri masih sering disalahpahami. Tidak sedikit yang menganggapnya sebagai upaya mengubah desa menjadi kawasan penuh pabrik, memindahkan pola hidup perkotaan ke pedesaan, sekaligus mengikis budaya lokal.
Kekhawatiran tersebut tentu berangkat dari pengalaman banyak daerah yang menjadikan desa sekadar lokasi ekspansi industri manufaktur, sementara masyarakat hanya menjadi penonton. Sawah berganti beton, ruang hijau menyusut, polusi meningkat, dan identitas desa perlahan memudar.
Padahal, makna desa industri tidak sesempit itu. Secara etimologis, Oxford English Dictionary menjelaskan bahwa kata industri tidak hanya berarti sektor manufaktur, tetapi juga mengandung makna ketekunan, kerja keras, dan usaha yang dilakukan secara terus-menerus.
Makna inilah yang semestinya menjadi landasan pembangunan desa. Industri bukan sekadar pabrik, melainkan proses mengolah potensi menjadi nilai tambah yang berkelanjutan.
Dalam konteks pembangunan desa, industri seharusnya dipahami sebagai kemampuan masyarakat mengembangkan seluruh sumber daya lokal menjadi aktivitas ekonomi yang produktif. Dengan demikian, setiap desa memiliki peluang menjadi desa industri sesuai karakteristiknya masing-masing. Desa pertanian dapat berkembang menjadi industri pertanian modern (agroindustry), desa pesisir menjadi industri perikanan, desa penghasil kopi menjadi industri pengolahan kopi, sementara desa yang memiliki panorama alam dapat berkembang menjadi industri pariwisata berbasis masyarakat.
Hal ini bisa dimaknai sebagai pengembangan dari ide Desa Tematik yang digagas oleh Menteri Desa dan PDT Yandri Susanto. Contoh yang menarik saya lihat ada di Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Desa yang berada di kaki Gunung Welirang dan Gunung Penanggungan ini dahulu dikenal sebagai kawasan pertanian pegunungan. Alih-alih meninggalkan sektor pertanian, pemerintah desa bersama masyarakat justru mengintegrasikan pertanian, budaya, dan panorama alam menjadi ekosistem wisata yang bernilai ekonomi tinggi.

