Hal itu diungkapkan dari tim teknis melalui Humas PT Enero M. Johar Fathoni, kemarin. Menurutnya, perusahaan ini tengah mengalami masa uji joba alat baru. ’’Kita sedang proses commissioning. Ada upgrading alat,’’ ungkapnya.
Nah, kata Johar, bau menyengat itu disebabkan oleh alat yang belum sempurna dan timbul dari proses fermentasi tetes menjadi ethanol. Proses inilah yang menghasilkan produk samping berupa spent wash yang selanjutnya diolah menjadi pupuk hayati cair. Proses pengolahan spent wash (anaerobic digester dan lagoon) tersebut menghasilkan produk samping berupa biogas. ’’Secara umum, biogas inilah yang menjadi sumber bau kurang sedap,’’ ungkap Johar.
Gas ini, lanjutnya, mengandung methane. Di mana, pada kondisi normal, kadar metana mencapai ≥ 48 persen. Ini dapat dibakar untuk menghilangkan bau yang timbul. Disebutnya, proses terbentuknya fermentasi idealnya membutuhkan waktu 45-50 hari. Sehingga ketika belum mencapai di hari tersebut maka fermentasi belum sempurna. ’’Atau kandungan gas methan belum mencapai 48 persen, sehingga belum bisa flaring (dibakar). Hal inilah yang menjadi faktor utama terjadinya bau yang kurang sedap,’’ jelasnya.
Sebaliknya, ketika fermentasi sudah sempurna, maka gas methane sudah mencapai 48 persen. Secara otomatis, biogas dapat dibakar dan tidak berpotensi memunculkan bau. Hal ini sama seperti membuat proses composting. ’’Dalam hal biogas sudah dapat dibakar, umumnya bau kurang sedap tersebut dapat dihilangkan,’’ tambahnya menegaskan.
Sebagai tindak lanjut bau kurang sedap yang mengganggu lingkungan sekitar, kini perusahaan berupaya melakukan mitigasi. Di antaranya, lagoon penampung spent wash yang telah diolah pada reaktor anaerobic digester, dipasang cover tertutup untuk mengantisipasi adanya reaksi lanjutan. Yakni, dengan menambahkan saluran pengeluaran untuk selanjutnya disalurkan ke unit pembakaran biogas (flaring).
Selain itu, juga memastikan penutup lagoon tidak mengalami kebocoran. Sehingga biogas hanya disalurkan pada unit pembakaran. Hal ini untuk memastikan penyebab utama timbulnya bau tersebut dapat diatasi. ’’Selanjutnya, melakukan pencampuran (antara biogas yang belum dapat terbakar dengan yang sudah dapat dibakar) dengan harapan setidaknya memiliki komposisi minimum sehingga dapat dibakar,’’ tuturnya.
Terpisah, Kepala DLH Kabupaten Mojokerto, Zaqqi, mengaku sudah menindaklanjuti keluhan warga. Pemda juga sudah melayangkan teguran kepada perusahaan pelat merah itu untuk melakukan perbaikan dalam produksi yang belakangan menimbulkan bau tak sedap dan meresahkan warga. ’’Kita meminta agar PT. Enero melaksanakan dokumen lingkungan yang sudah dimilikinya,’’ ungkapnya.
Sebelumnya, warga di sejumlah desa di Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto diresahkan dengan bau tak sedap. Selain membuat makan tak enak, kuatnya bau yang bersumber dari PT. Enero tersebut juga membuat kepala pusing hingga mual.
Bau yang meresahkan masyarakat sekitar itu terjadi sudah beberapa pekan terakhir setelah pabrik yang berlokasi di Desa Gempolkrep, Kecamatan Gedeg itu kembali beroperasi. ’’Kalau hujan baunya semakin menyengat. Termasuk, kalau malam juga parah, bikin kepala sampai pusing,’’ kata Sunarsih, warga sekitar. (ori/ron)
Editor : Fendy Hermansyah