Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Fenomena Mbediding di Mojokerto, Suhu Lebih Dingin dan Kering

Fendy Hermansyah • Minggu, 24 Juli 2022 | 19:19 WIB
KABUT PEKAT: Sejumlah pengguna jalan di kawasan Gedeg, Kabupaten Mojokerto tengah melewati kabut yang kerap menyelimuti suasana pagi hari.
KABUT PEKAT: Sejumlah pengguna jalan di kawasan Gedeg, Kabupaten Mojokerto tengah melewati kabut yang kerap menyelimuti suasana pagi hari.
Belakangan ini, saat malam hingga pagi hari Mojokerto terasa lebih dingin. Yang istilah umumnya disebut mbedhidhing atau mbediding. Lantas, apakah penyebab dan apa saja dampak yang timbul dari fenomena tersebut ?

MBEDIDING adalah istilah untuk suhu udara yang terasa lebih dingin dari biasanya. Terutama saat memasuki periode musim kemarau waktu malam hingga pagi hari. Ya, fenomena ini kerap terjadi saat musim kering atau kemarau.

Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Teguh Tri Susanto mengatakan, fenomena ini dipicu oleh dua faktor. Yakni, aliran udara saat musim kemarau serta cuaca cerah yang terjadi malam dan dini hari. ’’Ini termasuk hal yang wajar dan normal saat musim kemarau,’’ sebutnya.

Teguh menerangkan, faktor aliran udara yang dimaksud adalah udara yang masuk ke wilayah Jawa Timur, termasuk Mojokerto, berasal dari Australia yang membawa udara dingin. Karena saat ini Australia sedang musim dingin. Kedua, cuaca cerah di malam dan dini hari. Saat cuaca cerah tanpa awan itulah panas bumi dengan cepat dilepas ke atmosfer tanpa hambatan.

’’Saat langit cerah tanpa ada awan pada malam hari dan dini hari, panas yang dikeluarkan bumi akan terlepas secara besar-besaran menuju ke angkasa. Sehingga suhu di permukaan (bumi) menjadi dingin. Istilah di masyarakat biasa dikenal sebagai mbediding,’’ ungkapnya.

Meski terasa lebih dingin, menurutnya, itu tidak segaris lurus dengan terjadinya penurunan suhu secara drastis. Sebab, suatu wilayah punya suhu minimum dan maksimum dalam taraf normalnya setiap bulan. Misal, bulan Juni di Mojokerto normal suhu minimumnya 23-24 derajat celsius. Namun, suhu normal di bulan lain bisa dikisaran 25-26 derajat celsius.

’’Jadi kalau pun ada perbedaan biasanya ya cuma satu sampai tiga derajat celsius saja dari kondisi normalnya pada bulan tersebut. Tapi, kondisi tersebut tidak terjadi setiap hari,’’ terang Teguh. Menurutnya, fenomena ini bakal terjadi hingga Agustus mendatang. Sebab, saat ini sudah mendekati masa puncak kemarau yang diperkirakan jatuh di bulan Agustus dan awal September.

Lebih lanjut, fenomena mbediding ini tidak terjadi pada Mei-Juni lalu lantaran intensitas hujan masih tinggi. Praktis, panas bumi terkungkung di antara permukaan bumi dan atmosfer karena terhambat awan hujan. ’’Fenomena mbediding ini karena tidak ada tutupan awan di atmosfer. Sedangkan di periode Mei-Juni masih banyak gangguan cuaca secara regional sehingga masih banyak tutupan awan di wilayah Jatim,’’ urainya.

Menurutnya, fenomena musiman ini tidak menandakan bakal terjadinya bencana tertentu. Meski begitu, Teguh mengimbau agar masyarakat tetap menjaga kesehatan di masa pancaroba ini. Di antaranya dengan memakai jaket dan menggunakan sunscreen saat aktivitas di luar ruang, minum air putih yang cukup, konsumsi multivitamin bila perlu, hingga menghindari stres. ’’Tidak (dibarengi bencana), namun suhu terasa lebih dingin saja dari biasanya,’’ tandasnya. (vad/fen)
Editor : Fendy Hermansyah
#kabupaten mojokerto #Majapahit #Sekolah Soekarno Kecil #kota onde-onde #citayam fashion week #Mojopahit #citayam #trawas #cuaca dingin #pacet #sekolah ongko loro #masa kecil soekarno #Soekarno di Mojokerto #wisata mojokerto #mbediding #Kota Mojokerto #mojokerto #trowulan #onde-onde