Penulis Buku Soekarno Tapak Tilas Sang Putra Fajar Endang Pujiastutik mengatakan, selain tinggal di rumah kontrak yang sederhana, kehidupan Soekarno semasa kecil juga serba kekurangan.
Karena separo lebih gaji ayah Soekarno sebagai tenaga pendidik di sekolah pribumi digunakan untuk membayai sewa rumah yang kini terletak di Jalan Gajah Mada Nomor 82, Kotq Mojokerto. "Masa kecil Soekarno dibesarkan dalam kemiskinan," terangnya.
Menurut Endang, kondisi ekonomi di masa kecil itu tidak pernah ditutupi oleh Soekano. Bahkan, kemelaratan keluarganya digambarkan dengan gamblang dalam biografi Soekarno yang ditulis oleh Cindy Adams pada buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat.
Pada sub bagian ketiga dengan tema Mojokerto: Kepedihan Masa Muda itu, Bung Karno mengisahkan kesedihan masa kanak-kanak saat tinggal di rumah kontrakan. Sewaktu kecil, bocah dengan nama lahir Koesno ini juga tidak memiliki mainan seperti anak kota pada umumnya.
Karena itu, waktu bermain Soekarno lebih sering dihabiskan di aliran sungai buatan atau Kanal Jagalan. "Waktu di Mojokerto, rumah Soekarno dekat dengan sungai," terang Kepala SDN Purwotengah ini.
Jangankan mainan, orang tua Soekarno bahkan sering tidak mampu membeli beras untuk makan. Keluarga Soekemi lebih sering mengolah makanan dari ubi kayu dan jagung yang ditumbuk dengan bahan makanan lain.
Kalaupun memakan nasi, Soekarno lebih dulu membantu ibunya menumbuk padi hingga menjadi buliran beras. Karena harga gabah jauh lebih murah dibanding membeli beras. "Pada masa kecilnya, tidak jarang Soekarno makan satu kali sehari," cerita Endang. (ram/fen) Editor : Fendy Hermansyah