Kepala SMA Negeri 1 Sooko Sutoyo mengatakan, penggunaan seragam batik karya siswa sudah berlangsung sejak 2017 silam. Awalnya, melalui ekstrakurikuler, siswa diajak membuat batik cap bermotif daun buah Maja yang memang banyak ditanam di kawasan sekolah.
’’Motif batik yang dikenakan siswa itu terinspirasi dari daun pohon Maja. Kebetulan memang banyak ditanam di sekolah. Sekaligus untuk menghidupkan nilai Majapahit, makanya motif yang diambil akhirnya daun Maja,’’ ujarnya.
Sutoyo menuturkan, melalui kegiatan ekstrakurikuler, siswa mampu menghasilkan batik cap yang bisa digunakan sebagai seragam. Tak hanya siswa, bahkan guru juga diwajibkan mengenakan seragam batik hasil karya siswa tersebut. ’’Mulai tahun 2018 akhirnya, semua guru maupun siswa wajib pakai seragam batik ini setiap Kamis. Batik motif daun Maja khas SMAN 1 Sooko ini sudah dipatenkan juga 2019 kemarin,’’ paparnya.
Karena digunakan sebagai seragam, maka pembuatan batik khas SMA Negeri 1 Sooko tak hanya mengandalkan pengerjaan dari siswa yang tergabung dalam ekstrakurikuler saja. Melainkan juga melibatkan siswa yang duduk di kelas X dan dikemas dalam pembelajaran prakarya dan kewirausahaan. ’’Jadi, tujuannya tidak hanya melestarikan karya batik, namun juga menumbuhkan karaketer kewirausahaan pada siswa,’’ sebut dia.
Di samping membuat seragam, SMA Negeri 1 Sooko juga membuat kombinasi batik cap dan jumputan yang dijual ke masyarakat umum. Bahkan, batik hasil karya siswa ini kerap dipesan pelanggan dari luar kota seperti Malang dan Lamongan. ’’Alhamdulillah, upaya melestarikan batik itu kita pupuk dari ekstrakurikuler maupun pembelajaran siswa. Jadi, setidaknya saat lulus mereka sudah dibekali kemampuan membatik yang menjadi budaya warisan,’’ tandasnya. (oce/fen) Editor : Fendy Hermansyah