Kondisi demikian membuat peternak resah. Sebab, pedet dari indukan sapi yang terjangkit PMK secara beruntun mati. Salah satunya dialami Sujik. Senin (30/5), sapi berumur tiga hari miliknya mati. Padahal, saat lahir Jumat lalu (27/5), kondisi pedet berwarna coklat tersebut tampak sehat. Bisa berdiri dan menyusu secara normal. Namun, dua hari berikutnya, pedet mulai lemas dan muncul luka bernanah di bagian kuku. ”Setelah itu, hari ketiga tambah lemas dan akhirnya mati,” ungkapnya, kemarin.
Sejak mengalami gejala PKM, pedet telah diberi perawatan khusus. Salah satunya dengan menyediakan asupan tambahan berupa susu formula. ”Namanya usaha,” tutur pria 52 tahun tersebut.
Pedet tersebut lahir dari sapi yang baru dua hari terserang PMK. Saat melahirkan, sapinya mengalami gejala yang tidak terlalu parah. Yakni, mengeluarkan liur dan busa. Sujik menyebut, selama sepekan terakhir, termasuk pedet miliknya, di Dusun Gogor total enam ekor pedet yang dilahirkan sapi terjangkit PMK sudah mati. Lima ekor lainnya merupakan kepunyaan kerabat Sujik. Anakan sapi itu mati dalam hitungan usia hari. Yakni antara dua hari sampai lima hari setelah dilahirkan.
Masifnya penyebaran PMK, membuat peternak kian resah. Sebab, saat ini banyak sapi yang tengah bunting. Mereka khawatir, pedet yang lahir nantinya bakal mengalami kejadian serupa. ”Karena kalau indukannya terserang, pasti pedetnya mati,” keluhanya.
Kini, peternak berharap pengobatan melalui penyuntikan antibiotik dan vitamin yang dilakukan dinas terkait berdampak banyak. Koordinator PPL Kecamatan Dawarblandong Suharmaji menyampaikan, indukan yang terjangkit PMK berpotensi besar melahirkan pedet dengan penyakit serupa. Bahkan, risiko keterpaparannya mencapai 90-100 persen. Demikian pula dengan ancaman mati. Sebab, sapi yang baru lahir memiliki daya tahan tubuh lemah.
Sejauh ini, pihaknya baru menerima laporan tiga anak sapi yang mati. Menurut dia, kasus kematian pedet paling banyak terjadi pada usia kurang dari sebulan. ”Kematian pada pedet tinggi. Kalau usia di bawah satu bulan memang riskan,” terangnya.
Risiko ini makin sulit diatasi lantaran sulit dilakukan perlakuan khusus terhadap pedet. Sebab, anak sapi dalam masa menyusui tak mungkin dipisah dari indukannya. Demikian pula dengan opsi karaktina yang harus mempertimbangkan kandang terpisah. ”Kita bertemu kelompok tani dan sosialisasi supaya dipantau dan kalau ada kasus kematian tolong dilaporkan,” jelas Suharmaji.
Upaya penanganan terus dilakukan dengan pengobatan secara mandiri maupun dari dinas. Yakni berupa pemberian antibiotik hingga vitamin. Penanganan untuk meredakan gelaja PMK ini dilakukan seiring menunggu keluarkan vaksin khusus PMK. (adi/ron)
Editor : Fendy Hermansyah