Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Sempat Terbelah Akibat Campur Tangan Kolonial

Fendy Hermansyah • Kamis, 24 Maret 2022 | 13:12 WIB
KAMPUNG RELIGIUS: Nama Kauman di Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, yang tetap eksis hingga saat ini.
KAMPUNG RELIGIUS: Nama Kauman di Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, yang tetap eksis hingga saat ini.
SEMENTARA itu, meski Kauman telah menjadi rujukan dalam urusan keagamaan, tetapi dalam perjalanannya sempat terjadi perbedaan pendapat yang justru membuat masyarakat terbelah. Karena pada beberapa momen hari besar Islam dan penentuan Ramadan pernah terjadi silang keputusan antara Kauman Lor (utara) dan Kauman Kidul (selatan).

Ayuhanafiq menyatakan, terbelahnya kampung Kauman tidak lepas dari campur tangan pemerintahan kolonial. Itu setelah pengangkatan penghulu tak lagi menjadi kewenangan Bupati Mojokerto, melainkan sepenuhnya diambil alih pemerintahan Belanda.

Sejak saat itu, papar Yuhan, kolonial lebih memihak kelompok yang dianggap mudah diajak kerja sama untuk diangkat menjadi penghulu. Bahkan, mereka didatangkan dari luar Mojokerto. ’’Akibatnya, benturan kultural kerap terjadi. Karena para penghulu dari kolonial tidak memahami budaya lokal di Mojokerto,’’ tandasnya.
Perpecahan pun akhirnya terjadi di kampung Kauman. Kampung yang semula menjadi tempat tinggal ahli agama itu terbagi menjadi Kauman Lor yang notabene pendatang dari keturunan timur tengah. Sedangkan Kauman Kidul merupakan tokoh agama dan kiai pribumi.

Dikatakan Yuhan, terbelahnya kampung Kauman bermula dalam penentuan hari libur keagamaan pada hari besar Islam di tahun 1930. Kauman Lor menganut hari libur Maulid Nabi yang diputuskan pemerintah kolonial pada 7 Agustus. Sedangkan penduduk Kauman Kidul lebih meyakini peringatan kelahiran Nabi Muhammad itu jatuh pada hari berikutnya, yakni pada 8 Agustus.

Tak hanya itu, perbedaan pengambilan keputusan juga berlanjut pada penentuan bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri. Bahkan, antara Kauman Lor dan Kauman Kidul tidak pernah berlebaran di hari yang sama. ’’Perbedaan keputusan ini terjadi selama beberapa tahun,’’ tandasnya.

Baru pada tahun 1934, masyarakat di kampung Kauman berkesempatan menjalankan ibadah puasa di waktu bersamaan. Warga Kauman Lor dan Kauman Kudul sama-sama sepakat mengawali Ramadan pada 1 Desember. ’’Karena puasanya sama, maka Lebaran juga bersamaan,’’ pungkasnya. (ram/abi)

Editor : Fendy Hermansyah
#sempat terbelah #rujukan ramadan #pusat keagamaan #kampung kauman #gara-gara kolonial