Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Rawat Belasan Kucing Berpenyakit yang Hidup di Jalanan

Imron Arlado • Senin, 9 Agustus 2021 | 15:40 WIB
rawat-belasan-kucing-berpenyakit-yang-hidup-di-jalanan
rawat-belasan-kucing-berpenyakit-yang-hidup-di-jalanan


Punya keahlian saja, akan sia-sia jika tak memberi manfaat sesama. Begitu yang dialami drh Khoirul Inayah. Tanpa mempertimbangkan biaya, dokter hewan ini merawat kucing jalanan yang terjangkit scabies. Cita-citanya sederhana. Ia berharap, Mojokerto terbebas dari penyakit yang notabene bisa menulari manusia tersebut.


INDAH OCEANANDA, Puri, Jawa Pos Radar Mojokerto


Siang itu, sejumlah kucing berumur tiga mingguan, tampak sedang bermain-main di halaman sebuah rumah, di perumahan Wikarsa Baru, Banjaragung, Puri. Di depan Griya Fauna, hewan peliharaan itu nampak lincah dengan bulu yang sangat imut.


Sementara, tak jauh dari lokasi ini, tampak pemandangan yang pilu. Seekor kucing tengah terbaring sembari diinfus. ”Ini habis kecelakaan, Maka dikasih infus. Kalau kucing yang bawah itu, habis operasi hernia,” jelas drh Khoirul Inayah usai melakukan operasi kucing yang hendak melahirkan.


Di rumah ini, juga ada seekor kucing berbulu hitam tampak kotor dan sakit tengah berdiam diri di dalam shelter. Kedua daun telinganya terlihat dipenuhi kudis. Ya, kucing tersebut menderita penyakit scabies. Yakni penyakit yang disebabkan kutu dan menyebabkan kerontokan bulu pada hewan dan bahkan bisa berdampak pada kematian. ”Ini kucingnya baru dua hari di sini. Hasil dari rescue. Ditemukan di daerah Surodinawan,” ceritanya.


Inayah memang memiliki program penyembuhan kucing scabies. Menurutnya, masih banyak ditemui kucing jalanan yang menderita penyakit ini. Padahal, penyakit ini juga rentan menulari manusia apabila melakukan kontak fisik dengan hewan tersebut. ’’Sehingga saya membuka program. Siapa pun yang mau atau yang menemukan, silahkan bawa ke sini (Griya Fauna). Kita akan obati. Gratis sampai sembuh,” ungkapnya.


Istri Iwan Rokhim ini menuturkan, selama tiga bulan berjalan, ada belasan kucing yang berhasil ia sembuhkan. Jika ada yang datang dan berkenan mengadopsi, diperbolehkan. Sebaliknya, jika selama seminggu kucing tersebut tak ada yang mengadopsi, maka akan dikembalikan ke habitatnya semula. ”Kan kalau kucingnya sehat semua, jadi minimal penyakit berkurang,” ulasnya.


Alumni Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) tahun 1999 ini mengatakan, ada dua kandang yang disediakan untuk digunakan menampung kucing jalanan yang menjalani perawatan di Griya Fauna. Namun, jika kandang sudah penuh, kucing yang hendak, diminta untuk menunggu. ”Karena tempat saya terbatas, saya juga menerima pasien yang lain. Memang satu hari itu saya batasi dua, ada dua kandang karena kucing jalanan tidak ada yang punya,” ucapnya.


Perawatan ini, tak serta merta dilakukan dirinya sendiri. Namun, juga untuk biaya perawatannya digalang dana melalui donasi program Mojokerto Bebas Scabies. Inayah menuturkan, sejauh ini, programnya mendapat respon positif. Terbukti, dari sekitar sepuluh orang pendonor. ada yang juga merupakan warga luar Mojokerto. ”Paling jauh dari Solo, beliau malah rutin setiap bulan untuk donor. Saya selalu memberi info kegiatan ini melalui sosmed, ternyata banyak juga yang respon,” terangnya.


Kendati demikian, Griya Fauna sendiri juga turut menyumbang perawatan sebanyak 50 persen biaya pengobatan. Jadi, tidak hanya mengandalkan dari uang donasi saja. Hingga kini, Inayah mengaku selalu optimis untuk melakukan penyembuhan scabies pada kucing jalanan. Bagaimanapun juga, kucing juga mahluk hidup. Sama seperti manusia, mereka juga membutuhkan perlindungan. ”Saya ingin kucing jalanan tidak sakit, terutama penyakit scabies. Ya mereka kan juga sama seperti manusia, kalau tidak dimulai dari diri sendiri tidak akan bisa,” ungkap Inayah.


Editor : Imron Arlado