Pamdemi Covid-19 yang tak kunjung berunjung, membuat sejumlah pelaku bisnis buntung. Pun demikian dengan Tri Widiatmoko. Bisnis konveksi yang dijalani selama ini, turut kolaps. Ia pun dituntut bertahan agar para karyawan tak dirumahkan.
MARTDA VADETYA, PURI, Jawa Pos Radar Mojokerto
PULUHAN toples itu tampak berjajar di atas meja yang mirip bar itu. Isinya bukan kue atau permen. Melainkan tembakau. Ya, itu adalah toko tembakau. Dinamai Toko Tembakau Anucara oleh pemiliknya, Tri Widiatmoko.
Mungkin, bagi sebagian orang, toko tembakau bakal terdengar asing. Namun, bagi penikmat rokok ngelinting dewe alias tingwe, toko ini bisa jadi tempat jujukan.
Bisnis yang dirintis ayah dua putra ini terbilang masih seumur jagung. Belum genap dua tahun. Toko ini lahir sejak awal pandemi. Masa-masa pelaku usaha berguguran dan tak mampu bertahan.
Justru, hal itu tak menghambat owner konveksi Semut Geni ini mengepakkan sayap bisnisnya. Hingga kini, ia sudah mendirikan tiga toko tembakau di Mojokerto. Tak main- main omzetnya mencapai Rp 45 juta per bulan dan sukses menjual lebih 35 jenis tembakau. Mulai dari yang orisinal hingga pabrikan.
Semula, bisnis ini dicetuskan tanpa sengaja. Tri tak merancang konsepnya dengan matang. Justru, ia malah mendapatkan ide saat iseng membuka marketplace. Ia mendapati tingginya minat bahan baku rokok itu di pasar daring. ”Awalnya dapat ide (bisnis toko tembakau) itu waktu buka-buka shopee. Ternyata kok banyak yang cari tembakau. Akhirnya saya coba beli,” ujar pria 39 tahun itu.
Gayung bersambut. Nyatanya, masih banyak peminat tembakau untuk rokok tingwe di Bumi Majapahit. Selain karyawannya sendiri, ternyata customer usaha konveksinya juga mengalami hal yang sama.
Ide bisnis itu kian mencuat saat melihat bisnis konveksi turut oleng di tengah pandemi. Omzetnya anjlok hampir sepapruh. Dan, tiga dari 13 karyawannya terancam dirumahkan. ”Saya mikirnya, gimana kalau karyawan saya itu off. Kan mereka gajinya harian karena usaha saya masih home industri. Otomatis mereka ndak ada penghasilan,” bebernya.
Akhirnya, ia memutuskan untuk merintis bisnisnya itu lantaran peminat cukup banyak di Mojokerto. Meski begitu, bisnisnya tak langsung melejit. Bermodalkan tabungan seadanya, ia hanya menjual beberapa jenis tembakau saja dengan pemasaran yang masih sederhana.
Tri menawarkan ke teman-temannya sekaligus dari mulut ke mulut. ”Awalnya ya cuma tiga jenis saja. Saya tawarkan ke teman-teman lewat grup sekolah dulu. Modalnya ya nggak langsung banyak. Hanya dari tabungan seadanya. Dua juta, tiga juta, pokoknya total itu Rp 20 juta buat toko pertama,” papar bungsu dari tiga bersaudara itu.
Perlahan namun pasti. Tri yang dulu pernah jatuh dalam sejumlah bisnis lainnya itu belajar dari masa lalu hingga mampu membangun bisnisnya. Meski terdapat sejumlah kendala di tengah masa pandemi ini. Di antaranya adalah PPKM yang diberlakukan yang kesekian kalinya ini. Namun, itu tak menjadi kendala yang berarti. Terbukti dengan beroperasinya tiga Toko Tembakau Anucara di Jalan Raya Puri, Jalan Empunala, dan Jalan Wijayakusuma. Bahkan dalam waktu dekat, pria asal Desa/Kecamatan Puri bakal membuka toko ke empatnya di wilayah Dusun Lespadangan, Desa Terusan, Kecamatan Gedeg.
Hal tersebut tak lepas dari pribadinya sebagai pelaku usaha yang berpegang teguh pada prinsip. Tak lain dengan selalu berpikir positif dan mendekatkan diri kepada Tuhan. ”Saya pegang kata-kata dari ustad saya. Motivasi saya itu, senajan ora iso ngaji, ibadahmu bolong, seng penting migunani liyan utowo tonggo (meskipun tidak bisa mengaji, ibadah masih bolong, yang penting tetap berguna bagi orang lain atau tetangga),” pungkasnya. Tak pelak, kini ia mampu mempertahankan 13 karyawannya yang mayoritas masih tetangganya itu. (ron)
Editor : Imron Arlado