Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Serabi Rasa Daun Kelor, Warna dan Rasa Lebih Alami

Moch. Chariris • Selasa, 27 April 2021 | 23:00 WIB
serabi-rasa-daun-kelor-warna-dan-rasa-lebih-alami
serabi-rasa-daun-kelor-warna-dan-rasa-lebih-alami

Ramadan identik ragam kudapan khas berbuka puasa. Di antaranya adalah serabi. Tidak semua kuliner khas Kota Onde-Onde ini mengandalkan bahan kekinian. Namun, perajin turut memanfaatkan menjamurnya pohon kelor di sekitar rumah mereka.


PERAJIN jajanan serabi di Lingkungan Kemasan, Kelurahan Blooto, Kecamatan Prajurit Kulon belakangan sudah memanfaatkan daun kelor. Jika semestinya dimanfaatkan untuk sayur mayur, mereka justru memetiknya sebagai bahan campuran olahan serabi. ”Daun kelor ini biasa untuk sayuran, tapi kalau dimanfaatkan untuk serabi juga bisa. Terutama, mendukung varian rasa dan pewarnaan,” ujar Yanti, perajin serabi asal Lingkungan Kemasan.


 Pemanfaatan daun kelor ini, setelah Yanti melihat banyaknya pohon kelor di lingkungan rumah. Sehingga, agar rasa serabi mereka lebih unik dia memilih memanfaatkan daun yang konon menyimpan banyak khasiat ini. ”Daunnya diambil, dibersihkan, lalu dihaluskan (blender),” tutur ibu dua anak ini.


Setelah semua bahan serabi disiapkan, dari tepung beras, parutan kelapa, garam, gula merah, pandan, gula pasir, dan santan, baru pengolahan dilakukan. ”Pertama, tepung dan parutan dicampur, lalu dituangi santan yang sudah dipanaskan, sambil diaduk perlahan,” imbuh perempuan 41 tahun ini.


Untuk menjaga cita rasa, perajin serabi ini biasa memasak dengan mengandalkan metode tradisional. Yakni, menggunakan gerabah. Dibanding peralatan dapur modern, gerabah dinilai mampu menjaga aroma serabi agar lebih nikmat dan gurih. Nah, selama Ramadan ini, kudapan serabi juga banyak ditemui di beberapa titik di Kota Mojokerto. Salah satu Oki Yanuar Saputra.


Dia biasa membuka lapak serabi miliknya di sekitar Jembatan Kelurahan Pulorejo, Kecamatan Prajurit Kulon. Khususnya, ketika menjelang berbuka.”Kalau isinya sebenarnya sama, satu resep (warisan). Cuma yang membedakan itu proses memasaknya,” jelas pedagang asal Kelurahan Pulorejo ini.


Untuk satu porsi serabi rata-rata dijual Rp 6 ribu per porsi. Dalam satu paket serabi di dalamnya terdapat petulo, ketan, mutiara, serabi, dan kuah (santan dan gula cair). Sehingga dirasa pas untuk takjil atau dikonsumsi waktu berbuka. ”Karena bahan-bahannya penuh karbohidrat,” tambah bapak satu anak ini. (belinda/hakim)


 

Editor : Moch. Chariris