Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Cegah Stunting dengan Makanan Sehat

Imron Arlado • Rabu, 11 November 2020 | 18:00 WIB
cegah-stunting-dengan-makanan-sehat
cegah-stunting-dengan-makanan-sehat

Stunting atau pendek adalah kondisi gagal tumbuh pada balita akibat kekurangan gizi kronis. Sehingga, anak terlalu pendek di usianya. Kekurangan gizi kronis terjadi sejak bayi masih dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun atau saat ini terkenal dengan sebutan Periode Emas 1000 Hari Pertama Kehidupan.


Stunting dapat diukur melalui panjang badan menurut umur (PB/U) atau tinggi badan menurut umur (TB/U) yang dibandingkan dengan standar baku Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang mengacu pada WHO-MGRS (Multicentre Growth Reference Study).


Berdasarkan riset kesehatan dasar tahun 2013, sekitar 37 persen atau hampir 9 juta balita di Indonesia mengalami stunting. Sementara, data WHO di tahun 2016 menunjukkan, terdapat 159 juta balita di dunia mengalami stunting dan Indonesia masuk dalam jajaran 5 besar negara yang memiliki prevalensi stunting tertinggi di dunia.


Kondisi stunting baru akan terlihat ketika anak berusia dua tahun sehingga kecukupan zat gizi mulai janin hingga berusia dua tahun sangat berperan penting terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Balita yang mengalami stunting akan memiliki tingkat kecerdasan yang relatif lebih rendah, lebih rentan terserang penyakit dan dimasa depan dapat menurunkan produktivitas kerja.


Menurut Pungki Priyo Admojo, S.Gz, stunting disebabkan faktor multidimensi. Di antaranya praktik pengasuhan anak yang kurang baik, terbatasnya layanan Ante Natal Care dan Post Natal Care serta pembelajaran dini yang berkualitas, kurangnya akses keluarga atau rumah tangga pada makanan bergizi dan kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi. Hasil beberapa penelitian menunjukkan :


a.   Kurangnya pengetahuan Ibu mengenai kesehatan dan gizi sebelum dan saat kehamilan serta setelah melahirkan,


b.   60 persen anak usia 0-6 bulan tidak mendapatkan ASI eksklusif,


c.    Tingkat kehadiran di Posyandu menurun dari 79 persen pada tahun 2007 menjadi 64 persen pada tahun 2013,


d.   Anak belum mendapatkan akses yang memadai ke layanan imunisasi,


e.   Harga makanan yang bergizi di Indonesia relatif lebih mahal sehingga berkontribusi pada 1 dari 3 ibu hamil yang mengalami anemia.


 


Untuk mencegah terjadinya stunting, maka ahli gizi rumah sakit Gatoel, Mojokerto ini mengimbau seluruh masyarakat untuk segera berkonsultasi terkait zat gizi yang berperan penting untuk pertumbuhan dan perkembangan janin pada ibu hamil, memeriksakan putra-putrinya dan konsultasi gizi terkait pengukuran Antropometri (TB/U atau PB/U), makanan yang sehat, bergizi dan beranekaragam untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan balita, tips konsumsi makanan yang bergizi dan terjangkau serta informasi yang berhubungan dengan gizi atau kesehatan lainnya.


Status gizi yang baik akan mendukung status imunitas anak, merupakan investasi di masa mendatang bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia. Apabila Anda membutuhkan konsultasi gizi, silahkan menghubungi Pungki Priyo Admojo, S.Gz yang praktik di poli umum serta poli eksekutif RS Gatoel setiap hari Senin – Sabtu pukul 07.00 – 15.00 WIB atau bisa menghubungi Halo Gatoel untuk informasi lebih lanjut.

Editor : Imron Arlado