Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Dua Buah Hati Penenang Hati

Moch. Chariris • Selasa, 12 Mei 2020 | 05:00 WIB
dua-buah-hati-penenang-hati
dua-buah-hati-penenang-hati

KETIKA seseorang menginjak usia remaja cenderung ditandai dengan sifat nakal. Apalagi jika bergaul dengan teman-teman yang berprilaku kurang baik pula.


Demikian itu dialami oleh Angga Rahadian Wibisono, warga Desa Segunung, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto. Saat itu duduk di bangku sekolah menengah. Perilaku tidak baik itu pun semakin hari kian menjadi-jadi. Bagaimana tidak, sejak duduk di bangku sekolah kelas 1 Sekolah Menengah Atas (SMA).


Dia mulai sering terlibat dalam kasus perkelahian. Bahkan hingga tawuran pun dilakukan. Kenakalan remajanya itu membuatnya putus sekolah. Tepatnya saat duduk di kelas 2 SMA. Hal itu terjadi lantaran melawan seorang guru.


’’Sebenarnya saya mulai nakal sejak SMP. Tapi puncaknya itu pas waktu SMA. Dan saya tidak sampai lulus. Saya dikeluarkan dari sekolah karena menantang guru itu,’’ ungkap Angga. Kejadian itu tak membuatnya jerah. Setelah keluar dari pintu gerbang sekolah justru lebih nakal lagi.


Tingkah lakunya membuat orang tuanya kecewa. Namun hal itu itu tak pernah digubris. Malah pria berusia 34 tahun ini tak mempedulikan nasihat keluarganya. Dia memilih untuk hidup di jalanan. Untuk memenuhi kebutuhannya dia mengamen bersama teman sebayanya.


’’Mulai saat itulah, kenakalan saya semakin tinggi. Seperti tawuran dan mabuk-mabukan,’’ ungkapnya. Kehidupannya selalu diwarnai permasalahan. Dia tidak merasakan ketenangan. Yang didapat hanyalah kenikmatan sesaat. Seiring berjalannya waktu, ayahnya jatuh sakit.


Terkena serangan jantung. Peristwa yang menimpa orang tuanya itu membuatnya sadar. Bahwa perbuatanya selama ini menyusahkan kedua orang tuanya. Sehingga timbullah perasaan merasa bersalah. ’’Mulai saat itu saya berjanji pada diri saya sendiri. Saya tidak akan menyusahkan orang tua lagi,’’ sesalnya.


Berhenti dari kebiasaan buruknya itu dia harus melawan hawa nafsunya sendiri. Dia mulai meninggalkan teman-temannya. Berusaha tidak ikut saat diajak. Bahkan memutuskan keluar dari Surabaya. Tempat kelahiran dan dibesarkan. Meninggalkan Surabaya pergi ke rumah neneknya di Mojokerto dan tinggal bersamanya.


Agar tidak terpengaruh ajakan teman-temannya. Pada tahun 2008. Pria kelahiran 1986 ini mempersunting Indah Puji Lestari. Secara perlahan tingkah lakunya mulai mengarah ke jalan yang baik. Namun, belum 100 persen berubah. Kadangkala masih tidak bisa mengendalikan hawa nafsunya.


Sehingga terjadilah perkelahian. Beruntung istrinya selalu sabar mendampingi dan selalu mengingatkannya saat berbuat salah. ’’Tidak langsung berhenti total. Butuh proses dan orang yang mengingatkan. Dalam hal ini istri saya yang selalu mendukung saya untuk berubah,’’ tutur Angga.


Semakin hari, perubahan itu mulai tampak. Apalagi saat anak sulungnya lahir pada tahun 2009.  Kesadarannya semakin tinggi. Bahwa kini dirinya tak hanya menjadi imam bagi istrinya. Tapi juga menjadi teladan bagi anaknya.


Namun, kadangkala dia masih tidak bisa mengontrol emosinya hingga kembali berbuat tindakan yang merugikan orang lain. Beberapa tahun kemudian tepatnya pada tahun 2014 istrinya melahirkan buah hatinya yang kedua.


’’Setelah anak saya yang kedua itu lahir, alhamdulilah saya berhenti nakal secara total. Sebab saya harus menjadi contoh yang baik bagi mereka. Agar mereka kelak menjadi anak saleh dan saleha. Di situlah saya meresakan ketenangan,’’ kata Angga. (hin/abi)


 



 

Editor : Moch. Chariris