Keberadaan media cetak, baik koran, tabloid, maupun majalah semakin tergerus oleh zaman. Termasuk media cetak berbahasa mandarin yang sekarang ini tidak mudah lagi ditemui di pasaran. Bahkan, di Mojokerto sendiri, koran konsumsi kalangan Pecinan itu kini hanya beredar 31 eksemplar per hari. Jumlah tersebut tak sebanding dengan populasi warga Tionghoa di Indonesia yang mencapai sekitar 12 juta jiwa.
INFORMASI yang dihimpun Jawa Pos Radar Mojokerto, hanya ada satu dari lima jenis surat kabar Mandarin di Mojokerto yang masih bertahan dan dibaca oleh penggemarnya. Koran tersebut selalu terbit setiap pagi, dan tidak diperjualbelikan secara bebas atau eceran. Melainkan, sudah pesanan dari pelanggan.
Hampir semua pelanggan sekaligus pembaca setianya adalah kalangan Pecinan yang sudah berusia senja. Antara usia 50 sampai 70 tahun. Mereka mengaku setia membaca berita meski huruf, kosa kata hingga ejaan naskah yang ditampilkan adalah bahasa Mandarin.
’’Pelanggannya rata-rata sudah tua. Mereka kebanyakan ya yang punya toko di Jalan Majapahit. Ada juga yang di perumahan, tapi sedikit,’’ terang Muhammad Zainussholihin, satu-satunya agen koran Mandarin Qian Dao Ri Bao di Kota Mojokerto. Sholihin memang tidak tahu persis alasan utama di balik para penggemar setia berlangganan surat kabar Mandarin tersebut.
Namun, kata dia, informasi dari para pelanggan, rata-rata karena mereka ingin mempertahankan identitas sebagai keturunan Tionghoa. Di mana, ketika membaca berita dengan dialek Tionghoa, seakan dapat membangun memori lama akan nostalgia mereka bersama keluarga saat tinggal di Negeri Tirai Bambu. Kenangan itu semakin kuat dengan ulasan berita yang menceritakan situasi di negeri Tiongkok.
’’Kebanyakan mereka adalah orang tua yang dulunya lahir di China. Makanya, mereka agak marah ketika koran datang telat. Selalu ditanyakan setiap hari,’’ tambahnya. Untuk sekali terbit, jumlah berita dan halaman koran yang disajikan lebih sedikit jika dibandingkan dengan koran pada umumnya. Sholihin mengaku tidak tahu persis sampai kapan koran Mandarin itu mampu bertahan.
Termasuk penggemarnya yang semakin lama semakin turun digerus kemajuan zaman dan informasi teknologi (IT). Kecepatan akses informasi dari media elektronik maupun online membuat koran Mandarin tak lagi diburu. Termasuk juga regenerasi kaum Pecinan yang dinilai banyak terputus, dan tak lagi Mandarin sentris. Kaum muda Tionghoa justru lebih suka berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris, sebagai bahasa internasional lewat gadget.
Kondisi ini semakin mengancam kelestarian kebudayaan dan sastra Mandarin yang sempat mengakar di Bumi Nusantara. ’’Yang muda-muda lebih suka bahasa Inggris. Memang, kita generasi dewasa sempat ikut les ataukursus bahasa Mandarin. Tapi karena tidak pernah digunakan rutin setiap hari, jadinya lupa. Makanya itu, harusnya intens komunikasi bahasa ibu, agar tahu kebudayaan lama. Itu berlaku di semua keturunan,’’ pungkas Daniel Dewangga, salah satu warga Pecinan di kawasan Kelurahan Sentanan, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto ini.
Editor : Imron Arlado