SOOKO, Jawa Pos Radar Mojokerto – Masalah penyumbatan Dam Sipon sebagai pintu air menuju Sungai Brantas belum dapat dituntaskan. Selain terganjal derasnya air, volume material yang menyumbat dam juga cukup banyak. Utamanya berupa batang kayu berukuran besar.
Setelah pembersihan dilakukan BPBD Kabupaten Mojokerto, di hari keempat Rabu (5/2) giliran relawan Lembaga Penanggulangan Bencana Indonesia Nahdatul Ulama (LPBI-NU) Kabupaten Mojokerto melakukan pembersihan pintu dam di Desa Pagerluyung, Kecamatan Gedeg itu.
Bermodal alat panjat tebing, mereka tampak menuruni dasar dam untuk membersihkan sampah-sampah yang menyumbat. Hal ini sekaligus sebagai langkah untuk mengurangi banjir yang melanda Desa Tempuran, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.
’’Salah satu penyebab banjir di dua dusun di Desa Tempuran kan karena tersumbatnya Dam Sipon oleh sampah. Makanya, kami mencoba melakukan pembersihan,’’ ungkap Ketua LPBI-NU Kabupaten Mojokerto, Saiful Anam, di lokasi kemarin.
Dalam pembersihan ini, memang tak semudah di tengah sungai biasa. Di pintu dam pengatur volume air ini, relawan harus ekstra hati-hati. Itu lantaran arus air juga cukup deras. Berbekal kemampuan yang dimiliki, para relawan pun memanfaatkan peralatan panjat tebing.
Seperti kernmantle rope, hardness, carabiner, ascender, descender, hingga hammer dan hanger. Meski dalam aksi bersih-bersih ini tak tuntas, sampah yang menjadi sumbatan air menuju muara afvour Sungai Watudakon tampak mulai berkurang. Tidak hanya sampah rumah tangga, sejumlah sampah batang kayu ukuran sedang hingga besar berhasil diangkat. ’’Karena besarnya pohon yang tersangkut, akhirnya kami harus menggergaji agar bisa terangkat,’’ terangnya.
Besarnya material sumbatan membuat pembuangan air ke Sungai Brantas ini tak lancar. Anam menyadari, aksi itu berisiko tinggi pada keselamatan relawan. Untuk itu, dirinya harus tetap memprioritaskan keselamatan tim anggota relawan. Dalam mengevakuasi pohon, anggota harus menuruni Dam Sipon sedalam lima meter.
Dirinya juga mempersiapkan berbagai macam alat. Seperti katrol dan perlengkapan untuk menuruni dam. ’’Jika tidak segera dibersihkan, kapan banjir di lingkungan warga cepat surut. Apalagi itensitas hujan juga hampir setiap hari terjadi,’’ kata Anam.
Hingga tadi malam luapan sungai ke permukian warga belum juga surut. Debit air kiriman dari Sungai Gunting, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, ini masih merendam ratusan rumah warga di Dusun Bekucuk dan Tempuran, Desa Tempuran, Kecamatan Sooko. Warga yang terdampak juga masih harus mengungsi ke tempat lebih aman. Aktivitas mereka pun masih lumpuh.
Sehingga untuk memenuhi kehidupan sehari-hari mereka harus menunggu kiriman bantuan nasi dari dapur umum yang didirikan Pemkab Mojokerto. ’’Sebagian dari mereka masih mengungsi ke rumah sanak saudara yang tidak terimbas banjir. Tapi ada juga yang masih bertahan di dalam rumah,’’ ujar Kepala BPBD Kabupaten Mojokerto, M. Zaini.
Selain kesiapsiagaan di lokasi terus dilakukan, pembersihan Dam Sipon yang menjadi salah satu meluapnya air sungai ke permukiman warga juga terus dibersihkan. Namun, karena saat ini arus sungai cukup deras, tidak memungkinkan bagi petugas melakukan pembersihan secara menyeluruh.
Zaini menyatakan, BPBD sebelumnya akan menggandeng Marinir sebagai tim penyelam. Ini sekaligus melakukan pembersihan, dan memastikan sampah yang menyumbat benar-benar bersih. ’’Penyelaman kita garap bersama Marinir. Hari ini (kemarin, Red) survei oleh sejumlah instansi juga sudah dilakukan,’’ pungkas Zaini.
Editor : Imron Arlado