Bicara Mojokerto, tidak bisa dilepaskan dari Trowulan. Bukan tanpa alasan wilayah ini dikenal sebagai bekas pusat Kerajaan Majapahit. Hal itu bisa dibuktikan dengan banyaknya penemuan sejarah peninggalan Majapahit.
Seperti Kolam Segaran dan candi-candi yang hingga kini masih terawat. Maka, tidak salah jika banyak orang bilang, berwisata ke Mojokerto belum lengkap rasanya kalau belum mengunjungi Trowulan.
NAMUN siapa sangka, meski menjadi pusat wisatawan dari luar daerah bahkan mancanegara, ternyata perekonomian warga desa yang bersebelahan langsung dengan Desa Tanggalrejo, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang tersebut, tak bisa terangkat dengan keadaan tersebut.
Semua situs dan peninggalan Majapahit, seperti Kolam Segaran, Candi Gentong, Minak Jinggo dan Petilasan Putri Campa di desa ini tidak dikelola oleh pihak desa sendiri. Melainkan langsung di bawah naungan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan.
Dengan hal itu, pendapatan dari pengunjung seperti penjualan tiket masuk dan parkir setiap harinya tidak masuk dalam kantong pendapatan desa. Melainkan langsung ke pihak BPCB Trowulan. Akhirnya, dari hal itu, pihak desa pun memutar otak, dengan membuat agenda car free day (CFD) di lingkungan Kolam Segaran sebagai inovasi dalam menggerakkan perekonomian masyarakat setempat.
Alasan memilih Kolam Segaran karena pihak desa memandang tempat ini memendam destinasi tersendiri. Juga dipercaya pernah menjadi tempat pengemblengan kesatria laut Majapahit. Sehingga dinilai sangat cocok menjadi tempat menghirup udara segar.
Kepala Desa Trowulan Zainul Anwar, mengatakan, desa telah berinovasi menggelar CFD sejak sebulan lalu. Hal itu dimaksudkan agar perekonomian masyarakat Desa Trowulan semakin membaik. Menurutnya, melalui CFD, semua masyarakat desa bisa membuka lapak untuk usaha.
Seperti berjualan dari makanan dari kerajinan khas. ”Masyarakat nanti bisa berjualan apa saja saat CFD berlangsung. Biar pendapatannya bertambah, kan CFD itu cukup ramai,’’ katanya kemarin (9/3). Awalnya, lanjut Zainul, dia merasa pesismistis dengan terobosan tersebut. Pasalnya, kegiatan CFD di Mojokerto sendiri sudah sangat menjamur.
Namun, setelah CFD tersebut berjalan dua kali, ternyata banyak warga, baik dari dalam maupun luar Desa Trowulan yang antusias. Tidak hanya itu, hingga kini, kata Zainul, setidaknya sudah ada sekitar 280 orang mendaftar untuk membuka lapak dan berjualan saat CFD. ”Banyak warga senang, ada tambahan dari pendapatan mereka,’’ tambahnya.
Dari agenda tersebut, desa juga mengadakan acara bakti sosial, seperti donor darah bertempat di balai desa. Zainul berharap, ke depan, inovasi ini tidak berbuntut tikus saja. Jika CFD ini terus hidup, kemungkinan besar ekonomi warga otomatis terangkat. ”Kita adakan inovasi terus. Biar warga yang ikut, khususnya dari luar Trowulan. Harapannya, CFD nanti semakin ramai,’’ ujarnya. (ras)
Editor : Moch. Chariris