MOJOKERTO – Ketegasan orang tua dan guru dalam mendidik anaknya benar-benar harus ditingkatkan. Bagaimana tidak, satu dari empat pelajar yang diamankan Satpol PP Kota Mojokerto saat razia diketahui badannya penuh tato.
Di antaranya di bahu, leher, lengan, hingga jari-jari tangan sebelah kiri. ’’Untuk sekadar mengekpresikan kesenangan saja,’’ ungkap SL, pelajar salah satu SMA di wilayah Kota Mojokerto yang terjaring razia.
Tato yang dimiliki pelajar kelas XI ini tak hanya di bagian lengan dengan gambar tengkorak. Melainkan juga berada di lengan tangan kiri bagian bawah dengan gambar band Green Day. Sementara di jari-jari tangan dan leher terdapat tulisan. ’’Sudah lama, sejak kelas satu SMA,’’ celetuknya lirih.
Kabid Trantib Satpol PP Kota Mojokerto, Hatta Amrullah, mengatakan, hasil razia secara acak yang dilakukan, setidaknya berhasil mengamankan empat pelajar yang kedapatan bolos. Mereka asyik nongkrong di warung kopi area Hutan Kota dan di Gelora A. Yani yang sejauh ini masih menjadi tempat favoritnya.
’’Dari kempat pelajaran yang terjaring, satu pelajar memang diketahui memiliki tato tengkorak di tubuhnya,’’ katanya. Razia kali ini tidak berjalan mulus. Aksi kejar-kejaran antara petugas dan para pelajar sempat terjadi.
Bahkan, dari enam pelajar yang kedapatan nongkrong di luar sekolah saat kegiatan belajar mengajar (KBM) berlangsung, dua di antaranya berhasil meloloskan diri. Sehingga, petugas hanya mengamankan empat pelajar. ’’Dua pelajar SMP dan dua lagi SMA,’’ tuturnya.
Sebaliknya, bagi pelajar yang berhasil melarikan diri, petugas berhasil mengamankan sepatu lengkap dengan tas kelengkapan sekolah. Tak hanya itu, untuk mengelabui petugas, sebagian dari mereka juga ada yang berpura-pura ke toilet.
Karena sudah hafal dengan modus mereka, petugas tak kekurangan akal. Dengan sabar petugas menunggu hingga menggedor pintu toilet hingga mereka akhirnya keluar. ’’Sebagai pembinaan, kami beri pendampingan konseling pada mereka. Harapannya agar hal seperti itu tidak terulang lagi,’’ tutur Hatta.
Selain itu, untuk membuat mereka jera, petugas lantas melakukan edukasi sekaligus memanggil orang tua dan gurunya. Harapannya, mereka bisa lebih tegas dan meningkatkan pengawasan kepada anak didiknya. Baik saat di rumah maupun saat selama di sekolah.
Sebab, bagaimana pun apa yang menjadi tindakan mereka yang statusnya di bawah umur merupakan tanggung jawab bersama. Apalagi sampai ada pelajar yang memiliki tato di tubuhnya. ’’Ini kan cukup memprihatinkan. Dia masih usia produktif dan harusnya memiliki masa depan lebih baik,’’ terangnya.
Hatta menjelaskan, razia rutin dilakukan tak lain menekan angka kenakalan remaja. Menyusul, di usia yang masih labil, mereka rentan melakukan perbuatan yang melanggar norma dan aturan.
Di lain sisi patroli ini juga menekan kewajiban seorang pelajar yang mengacu pada Perwali Nomor 9 Tahun 2009 tentang Kota Mojokerto Berlingkungan Pendidikan dan Wajib belajar 12 Tahun.
Editor : Moch. Chariris