MAKKAH - Terhitung sejak Senin (18/9) lalu, jatah makan jamaah haji Indonesia resmi dihentikan. Selama berada di Makkah, jamaah memang mendapat jatah makan gratis olahan katering resmi yang ditunjuk pemerintah Indonesia sebanyak 25 kali. Atau dibagikan di masing-masing maktab (hotel) pagi dan malam. Terhitung selama 12 kali sejak kedatangan jamaah di Tanah Suci.
”Artinya, jamaah bisa mandiri lagi,” ujar Misbahul Arifin, ketua Kloter 81 embarkasi SUB (Surabaya) kemarin. Menanggapi penghentian jatah makan ini, jamaah haji tidak terlalu risau. Menyusul, di sepanjang jalan di sekitaran maktab banyak dijumpai pertokoan Indonesia atau tempat-tempat kuliner yang sesuai dengan lidah orang Indonesia.
Nah, wisata kuliner di Kota Makkah banyak memiliki varian beragam. Dan sebagian disajikan ala kateringan alias dapat memilih dan mengambil menu sendiri. Harganya pun tidak terlalu menguras kantong, alias tidak berbeda jauh dengan harga makanan di tanah air.
Di antara kuliner khas Arab Saudi biasa diburu jamaah adalah kebab dan nasi bukhari. Makanan asal Timur Tengah ini dapat dengan mudah ditemui. Di Arab Saudi, kebab dikenal dengan nama shawarma. Potongan kecil-kecil daging ayam, domba, atau sapi yang dibakar, terpadu dengan tomat, bawang bombai, ketimun, dan slada. Lalu, terbungkus rapi dalam roti pita yang dipanggang (khubz). Siap menggoda selera jamaah.
Shawarma biasa di temui di tanah air berbeda dengan di Kota Makkah. Sehingga, terasa asing bagi lidah orang Indonesia. Salah satu yang membedakan adalah ramuan rempah-rempah bahan utama daging, dan potongan kentang di dalamnya.
Namun, itulah tantangan wisata kuliner yang membuat jamaah haji memiliki kesan tersendiri. Di sisi lain, porsi besar khas orang Timur Tengah membuat perut jamaah Indonesia lebih cepat kenyang. Untuk harga, satu kebab berisi daging sapi atau kambing berkisar 4 riyal, sedangkan daging ayam 5 riyal. (1 riyal setara Rp 3500). Selain di kios-kios, jamaah bisa berkuliner di restoran yang banyak tersebar di Kota Makkah. Tentunya, dengan harga jauh lebih mahal, karena sebanding dengan kualitas daging dan sajiannya.
Di sepanjang jalan menuju atau sekembalinya dari Masjidilharam misalnya. Ada banyak kios makanan dan minuman siap saji. Dan, kuliner lain adalah tamis. Bentuknya hampir sama seperti roti dasar sebuah pizza. Namun, karena ukurannya berdiameter sekitar 40 cm, jamaah sering menyebut dengan istilah roti ban serep.
Tamis merupakan makanan khas Afghanistan dibuat dari adonan tepung gandum yang dibakar di dalam tungku. Rasa tamis pun beragam, dan dapat disesuai dengan keinginan pembeli. Ada tawar agak gurih (plain), rasa manis, pilihan taburan gula dan wijen (sukari), atau isi keju (jubnah). Oleh orang Arab Saudi, tamis biasa disajikan dengan krim keju, madu, atau susu kental manis atau ful.
Ful merupakan adonan campuran kacang merah yang dihaluskan sebelumnya, ditambah jinten atau biasa diberi nama kamon. Kemudian, disajikan dengan acar tomat. Namun, agar tampak lebih segar dapat ditambahkan pula dengan minyak zaitun. Ful bisa ditambahkan dengan bawang bombai, irisan cabai hijau, atau perasan jeruk lemon. Oleh pedagang, harga tamis dibanderol antara setengah hingga 2 riyal per potong.
Sementara itu, jenis roti lain banyak ditemui di Makkah adalah roti paratha. Di Indonesia roti paratha dikenal dengan sebutan roti maryam atau roti canai. Roti ini dimasak dengan cara dipanggang hingga bewarna agak kecokelatan. Dan biasa disajikan dengan kari. Seperti, kari ayam, sapi atau kambing.
Bagi jamaah yang tidak begitu menyukai masakan berkuah kari kental, paratha nikmat bila dicocol dengan susu kental manis, gula, madu atau saus tomat dan cabe. Cukup dengan merogoh kocek 2 riyal, jamaah sudah mendapatkan 2 lembar roti lengkap dengan sajian kari sesuai selera.
Bagi jamaah yang usianya relatif muda dan kurang menyukai masakan berbahan dasar roti, ada alternatif restoran ayam goreng siap saji. Macam KFC dan Mc Donald. Bahkan, selain jamaah haji, penduduk lokal Arab Saudi pun rela mengantre demi merasakan menu resto siap saji ini. Dapat dimaklumi, selain rasanya yang lebih enak, harganya pun jauh lebih murah bila dibandingkan dengan KFC atau Mc Donald asli. Satu paket (box) dibanderol 13 riyal. Berisi empat hingga delapan potongan ayam atau nuget, plus kentang goreng dan roti khas Arab Saudi.
”Yang perlu diingat ketika wisata kuliner, janganlah datang berdekatan dengan kumandang azan. Sebab, banyak restoran, kios, dan lapak di Makkah menutup dagangan mereka dan tidak mau melayani. Demi mengikuti salat jamaah. Meski dilakukan di sekitaran toko atau mal,” papar Achmad, jamaah haji asal Ngoro, Kabupaten Mojokerto.
Editor : Moch. Chariris