Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Naik Pesawat Berihram, Tiba di Makkah Langsung Umrah

Moch. Chariris • Minggu, 27 Agustus 2017 | 04:50 WIB
naik-pesawat-berihram-tiba-di-makkah-langsung-umrah
naik-pesawat-berihram-tiba-di-makkah-langsung-umrah



MOJOKERTO – Meski baru sehari meninggalkan Tanah Air, ujian besar langsung dihadapi Calon Jamaah Haji (CJH) Kabupaten Mojokerto dalam menunaikan rukun Islam kelima. Betapa tidak, mendapat jatah penerbangan paling akhir, ribuan CJH kabupaten dituntut mampu memanfaatkan waktu sesingkat mungkin untuk melewati rukun haji satu per satu.


Jadwal tersebut otomatis berdampak pada persiapan jamaah dalam mengambil miqat atau niat awal berhaji. Akibatnya, sejumlah jamaah bahkan ada yang memilih mengenakan mengenakan pakaian ihram dan bersuci sejak dari Bandara Juanda. Pilihan ini pun menuntut mereka untuk bisa menahan kesucian selama 10 jam perjalanan di pesawat sebelum akhirnya tiba di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah.


Ya, pilihan mengenakan ihram sejak di bandara memang baru kali pertama dilakoni rombongan jamaah haji asal Kabupaten Mojokerto. Khususnya bagi 443 CJH di kloter 78 dan sebagian jamaah di kloter 79 yang diisi CJH asal KBIH Al Rahmah. Pilihan itu tak lepas dari pembagian kloter yang diterima rombongan kabupaten berada gelombang kedua atau kloter paling akhir. Sehingga, saat tiba di Tanah Suci, mereka sudah berada di Makkah dan langsung melakoni rukun umrah wajib.


Situasi itu berdampak pada prosesi pengambilan miqat atau niat awal haji yang hanya diberi jatah waktu tak kurang dari 45 menit setelah turun dari pesawat. Rentang waktu itu pun dipandang sejumlah KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji) tidak mencukupi bagi jamaah haji untuk melakoni bersuci. Hingga akhirnya pilihan bersuci sejak di Indonesia pun dinilai sebagai pilihan efektif demi khusyuknya rukun ibadah haji.


Kondisi itu diakui Kemenag sebagai fenomena baru yang jarang ditemui. Meski dipandang cukup berat, namun tidak ada persoalan bagi CJH yang sanggup menahan kesucian selama 10 jam di pesawat. ’’Karena mengambil miqat di bandara waktunya juga sangat sempit sebelum akhirnya jamaah wajib menjalani pemeriksaan dokumen. Nah, akhirnya banyak yang memilih berihram di pesawat karena akan mengambil miqat di pesawat yang melintasi Qarnulmanazil,’’ terang Mukti Ali, kasi Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kemenag Kabupaten Mojokerto, kemarin.


Sementara itu, perjalanan awal 1.791 CJH ke Tanah Suci sejak kemarin tidak diikuti 3 CJH. Pasalnya, KKP (Kantor Kesehatan Pelabuhan) yang memeriksa kesehatan jamaah sebelum terbang menemukan ketiga jamaah mengalami sakit yang begitu parah. Ketiganya berasal dari kloter 78 (2 orang) dan kloter 80 (1 orang). Saat diperiksa, kesehatan ketiga jamaah mengalami gangguan mulai dari stroke, pendarahan hingga dimensia atau pikun akut. Sehingga KKP merekomendasikan untuk tidak diperkenankan berangkat ke Tanah Suci dan harus dirawat di Rumah Sakit Haji Sukolilo Surabaya.


’’Dua jamaah dari kloter 78 atas nama Sriamah karena sakit stroke dan satunya atas nama Nurul Khuzaimah yang mengalami pendarahan ringan. Sedangkan satu jamaah dari kloter 80 atas nama Kantri, karena kondisinya sudah tua sekitar 80 tahun sehingga saat di Asrama Haji sempat meronta-ronta. Masih ada kemungkinan jamaah yang mengalami pendarahan untuk terbang ke Tanah Suci lewat kloter 83. Tapi harus menunggu rekomendasi tim dokter dulu,’’ pungkas Mukti.

Editor : Moch. Chariris