Gua buatan ini dibuat Mustain di area pekarangan rumah tempat rumpun bambu, saung, dan sebuah musala. Di antaranya ada tangga setapak menuju bawah yang menjadi pintu masuk gua. Area gua terdiri dari tiga bagian utama yang tersambung melalui lorong.
Mustain mengaku membuat gua ini secara manual. Sejak 2000 silam, setiap hari dia menggali tanah hingga akhirnya jadilah gua seluas 40 meter tersebut. ”Sehari rata-rata mengeruk satu bak pikap. Pakai alat manual. Linggis, tatah palu, cangkul, sama ember buat angkut tanahnya keluar,” tutur Mustain.
Pekerjaan itu dilakukannya seorang diri dengan dibantu sejumlah kerabat. Keberadaan gua yang memiliki kedalaman sekitar 15 meter dari permukaan tanah itu menarik perhatian orang. Selain berkunjung, tak sedikit di antaranya yang bermeditasi. Mereka menginap dalam goa selama dua sampai tiga hari. ”Tidak tahu tujuannya apa. Untuk bersemedi saja,” kata pria 40 tahun ini.
Berbagai pengalaman mistis dialami pengunjung saat bermeditasi. Mustain mengungkapkan, kepadanya mereka mengaku melihat penampakan keris hingga tasbih di gua. Namun, saat hendak diambil, barang tersebut sudah tidak ada. ”Pas mau dipegang begitu katanya hilang. Saya dulu juga menemukan banyak benda-benda di dalam sini,” ulasnya.
Saat memasuki gua, pengunjung bakal melewati sebuah nisan yang dibuat oleh Mustain. Disebutnya, letak nisan itu disesuaikan dengan posisi dua pohon jati yang berdiri di atasnya. ”Di sini dulu katanya makam leluhur saya. Makanya saya buat makam meskipun tidak ada orangnya,” ungkap dia.
Keyakinan tersebut didapatkan Mustain melalui sebuah bisikan yang datang padanya. Dalam bisikan tersebut, dirinya diminta untuk menggali tanah di lokasi dan membuat makam di bawah pohon jati. ”Bisikan itu pas saya sedang berpuasa dan saya laksanakan sampai sekarang,” tandasnya.
Mustain pun mengakui, yang membuatnya terdorong membuat gua semata karena bisikan tersebut. Dia menilai, bisikan itu sebagai perintah sehingga harus dilaksanakan. Dengan memenuhi perintah itu, dirinya bisa merasa tenang. ”Dan saya membuat gua ini untuk menenangkan diri,” ulas dia. (adi/ron)
Editor : Fendy Hermansyah