Simon Haryoko ingat betul dengan letak rumah pertamanya di Lingkungan Balongrawe. Pada 1985 silam, dia mengontrak rumah yang berada tepat di bekas jalan setapak menuju makam Cina. Posisinya sekitar 200 meter di utara rumah yang ditinggalinya secara menetap lima tahun kemudian hingga sekarang. ”Sangat sering diberi penampakan berupa Cino gundul,” katanya mengawali pembicaraan, kemarin (19/8).
Hantu tersebut berkomunikasi dengannya lewat mimpi. Kepada dia, sosok pria bermata sipit dan bertubuh tinggi itu meminta kompor dan korek. Selain Cino Gundul, suatu saat Simon juga didatangi oleh rombongan gadis Cina. Tamu itu duduk melingkar dan mengobrol dengannya.
Simon mengaku tidak tahu apa maksud kedatangan sosok-sosok Cina itu. Yang jelas, pengalaman tersebut tak dialaminya sendiri. Maria Magdalena, sang istri bahkan masih bertemu dengan ’’pria Cina” tersebut hingga di rumah barunya.
Maria menceritakan, kepadanya, si hantu juga meminta kompor dan korek lalu dibawa lari ke area pemakaman yang berada di pojok. ”Orangnya pakai jas dan tidak bisa bicara. Tapi dari isyaratnya saya tahu,” ujar perempuan 59 tahun itu. Kelak, dia baru mengetahui makam tempat menghilangnya si hantu tidak pernah dirawat oleh keluarganya. Seolah, sang mendiang telah dilupakan keluarganya.
Tak hanya kisah Cino gundul. Pada masa itu makam Cina belum menjadi permukiman padat seperti sekarang. Saat itu, di area kuburan khusus yang membentang dari Lingkungan Balongrawe dan Lingkungan Kedundung ini belum bertebaran rumah-rumah warga. Penampakan sosok itu menurutnya juga dialami oleh sejumlah warga lain.
Cerita ganjil lainnya dari kampung makam Cina juga beraroma kutukan. Sekira 20 tahun silam, seorang anak diyakini mendapat tuah setelah menginjak pelataran makam sakral di lingkungan tersebut. Bagian mulut bocah yang semula bermain bentengan bersama kawan-kawannya itu diketahui sudah tidak normal.
”Mulutnya pletot (tidak sejajar, Red). Waktu itu sudah petang,” tuturnya sembari mengingat kejadian tersebut. Saat itu diyakini, si bocah telah menginjak tempat sesajen makam. Area pelataran yang biasa dipakai untuk sembahyang sebelum prosesi pemakaman itu disebut menjadi tempat bersemayamnya sang danyang.
”Incak-incak Mak Co iki maeng paling,” ujar Magdalena menirukan ungkapan orang-orang. Mak Co, dalam kepercayaan Konghucu dipercaya sebagai seorang dewi agung. Sosoknya kerap diabadikan dalam bentuk patung dan terletak di klenteng. (adi/ron)
Editor : Fendy Hermansyah