Semenjak merebak 2020 silam, mereka yang meninggal karena virus korona telah dimakamkan di lahan tersebut. Lokasinya bersadingan dengan Makam Gembongsari. ’’Ada seratusan orang yang dikubur di situ,’’ ujar Sunardi, petugas pemakaman Covid-19 Kota Mojokerto.
Terakhir kali Sunardi mengubur korban Covid-19 awal tahun lalu. Saat itu, area makam telah penuh. Sehingga oleh pihak pemkot, warga yang meninggal karena Covid-19 diperbolehkan dikubur di pemakaman umum.
Sunardi menceritakan, kala itu proses pemakaman korban Covid-19 tidak mengenal waktu. Baik siang atau makam. Selama ada korban tumbang, dia dan tim langsung berangkat. Proses pemakaman biasanya melibatkan 10 orang. Pekerjaan mereka mulai dari menggali tanah hingga menggotong peti mayat. ’’Tengah malam pun sering,’’ ungkap pria 63 tahun tersebut.
Menurutnya, proses pemakaman korban Covid-19 tak berbeda jauh dengan pemakaman pada umumnya. Hanya saja, pengalaman-pengalaman ganjil keras dirasakannya. Konon, saat melakukan penggalian kuburan, Sunardi dan kawan-kawan sering melihat penampakan sosok bertubuh besar. ’’Warna hitam besar. Berdirinya di bawah pohon keres,’’ terang warga Kelurahan Balongsari Gang 9, Kecamatan Magersari ini.
Dari sekian kisah mistis itu, yang paling diingatnya yakni sosok arwah perawan tua yang bergentayangan. Sunardi menyebut, ada yang kurang dari proses pemakamkan korban Covid-19 asal Kelurahan Kauman tersebut sehingga rohnya berkeliaran. ’’Istilahnya ada yang tidak lengkap karena tidak ada nisannya,’’ tutur penarik becak yang sehari-hari mangkal di samping gedung MPP Gajah Mada itu.
Si arwah dipercaya kebingungan karena sulit menemukan tempat peristirahatannya. Selama itu, sosoknya berkeliaran dan dan bahkan meneror warga sekitar. ’’Hampir dua mingguan bergentayangan. Warung dekat pemakaman itu ada yang digedor-gedor. Akhirnya hilang setelah saya tanami pohon kamboja dan diberi nisan sama petugas,’’ ucapnya. (adi/ron)
Editor : Fendy Hermansyah