JALAN penghubung Pacet, Kabupaten Mojokerto dan Cangar, Batu tak hanya dikenal dengan keindahan alamnya saja. Namun, di jalur ekstrem dengan medan berliku dan dikelilingi pegunungan dan jurang itu, juga menyimpan beragam misteri. Tak hanya kasus kecelakaan, kawasan yang masuk Taman Hutan Rakyat (Tahura) Raden Soerjo itu juga akrab sebagai lembahnya korban pembunuhan.
Kawasan alas Raden Soerjo seringkali digemparkan dengan kasus penemuan mayat. Di antaranya kelak teridentifikasi sebagai korban pembunuhan. Selama kurun waktu 2008 sampai 2020, masyarakat telah menemui sekitar empat kejadian pembuangan mayat di sepanjang jalur Pacet-Cangar tersebut.
Korban-korban ditemukan dengan kondisi beragam. Seperti telanjang bulat, terbungkus karung, hingga tubuhnya terikat tali. Rabu (6/7), Jawa Pos Radar Mojokerto berkesempatan menelusuri jejak penemuan mayat korban pembunuhan itu (lihat youtube Radar Mojokerto Channel). Lokasi bekas penemuan mayat meliputi selokah dekat gapura Tahura R Soejo, jurang tepi jalan dekat deretan warung di Sendi, serta sungai yang mengalir tepat di bawah Jembatan Cangar I dan II.
Yanto Tholin, warga Desa/Kecamatan Pacet mengatakan, penemuan mayat korban pembunuhan di jalur Pacet-Cangar tak lepas dari keberadaan kondisi geografis hutan. ”Medannya yang cukup terjal dan ekstrem luar biasa karena kanan dan kiri jurang, sehingga dikira oleh pembuang mayat pembunuhan ini tempat yang aman,” ujarnya.
Menurut dia, selain sebagai tempat pembuangan mayat, hutan Raden Soerjo juga terkenal angker. Gapura Tahura R Soerjo yang berada di Dukuh Sendi, Dusun Pacet Selatan, Desa Pacet itu dikelilingi sejumlah goa peninggalan zaman Jepang. Goa-goa itu sangat jarang disentuh manusia. Gapura, lanjutnya, konon juga dijaga oleh dua sosok makhluk astral. Yakni berupa seekor ular seukuran pohon kelapa berwarna hitam dan seorang perempuan cantik. ”Mereka ada di sekitar hutan dan sering menyeberang jalan. Makanya banyak pengendara yang bunyikan klakson,” terang pria yang akrab disapa Cak Gusi itu.
Tak jauh dari gapura, di sisi selatan terdapat kawasan bernama Alas Kutukan. Rute jalan cekung dan menikung di tepi tebing itu memang memiliki ruas jalan yang lebih sempit dari jalur sebelum atau sesudahnya. Kendaraan roda empat harus bergantian ketika melintasi ruas sepanjang sekitar 50 meter tersebut dengan dipandu seorang petugas supeltas. Di tepi sisi utara jalan terdapat sebuah batu yang menjadi tempat sesaji dan membakar dupa.
Kepercayaan masyarakat, kendaraan, khususnya yang bermuatan sayur biasa melemparkan uang koin ketika melintasi Alas Kutukan. Tradisi ini berlaku bagi kendaraan dari arah Mojokerto maupun Batu. Tholib mengumpamakan, kebiasaan lempar koin tak ubahnya sebagai tradisi membuang nasib sial. ”Kepercayaan itu seperti kalau orang dulu menikah beda tempat terus pas menyeberang sungai membuang ayam,” tutur pria 39 tahun ini.
Kepercayaan mistis yang melekat selama puluhan tahun itu kian kuat dengan berbagai kasus pembuangan korban pembunuhan yang diungkapkan di awal. Konon, derajat keangkeran meningkat seketika setelah ada penemuan mayat. Yang paling dirasakan yakni hawanya yang berubah drastis. ”Pernah ada yang di warung itu ada yang ketok-ketok pintu dan memanggil-manggil,” tutur pria yang juga aktif sebagai relawan penyelamat di Jalur Pacet-Cangar tersebut.
Menurut dia, kejadian aneh itu biasanya dialami warga hingga 40 hari selepas penemuan mayat. Pengalaman mistis demikian juga disampaikan Supriadi. Warga Desa/Kecamatan Pacet ini mengaku memiliki pengalaman menyaksikan penampakan orang menyeberang jalan di tempat bekas penemuan mayat. Selain itu, menurut dia, tak sedikit pengendara yang menyaksikan jalan tiba-tiba bercabang.
”Pengendara melihat jalan kayak lurus, padahal berbelok,” ungkapnya.
Mitos yang dipercaya, di jalur Pacet-Cangar terdapat lima titik angker. Ketika melintasi titik itu, pengguna jalan kerap menemui penampakan berupa keramaian, orang duduk, hingga jalan bercabang. Padahal, semua itu tidak ada. (adi/ron)
Editor : Fendy Hermansyah