Psikolog Klinis RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto Hasri Ardilla, S.Psi, M.Psi, psikolog, menerangkan, secara psikologis, permainan lato-lato punya banyak manfaat selain mengenalkan permainan tradisional dan menggantikan gadget untuk anak bermain. Menurutnya, secara umum permainan lato-lato dapat menstimulus kemampuan motorik, bahasa, hingga fungsi eksekutif anak.
’’Fungsi eksekutif anak ini kemampuan individu (anak) untuk mencapai sesuatu. Jadi, supaya mencapai etek-etek (membenturkan dua bola plastik secara konstan) itu sekaligus melatih kognitif dan motorik halus di tangan anak,’’ ungkapnya. Terlebih, lato-lato dimainkan anak bersama teman-temannya.
Hasri menyebut, interaksi dengan teman sepermainan itu sekaligus mengasah perkembangan sosio-emosional anak. ’’Saat bermain bersama atau berlawanan dengan temannya ada proses emotional challenge. Sehingga pengendalian emosi anak dilatih. Bagaimana dia bersikap saat itu dan memikirkan dampak setelahnya,’’ bebernya.
Meski begitu, lanjut Hasri, bermain harus menyesuaikan kebutuhan, tahap perkembangan, dan usia anak. ’’Karena bermain akan memberikan dampak positif yang maksimal kalau disesuaikan dengan konteksnya,’’ tambahnya.
Itu dengan adanya dampak negatif yang ditimbulkan dari perminan lato-lato. Mulai dari tangan bengkak, kepala benjol, hingga memicu pertikaian antar pemain setelahnya. Tak pelak, menurut Hasri, permainan lato-lato baiknya dimainkan oleh anak usia 8 tahun ke atas. Hal itu mengacu pada teori tahap bermain anak Jean Piaget (psikolog asal Swiss) sesuai usia dan perkembangan kognitif anak.
Yakni tahap Sensory Motor Play (usia 0-2 tahun), Symbolic atau Make Believe Play (usia 2-7 tahun), Social Play Games With Rules (8-11 tahun), dan Games With Rules and Sport (11 tahun ke atas). ’’Jadi anak usia 8-11 tahun kemampuan kognitifnya sudah mampu menangkap rules (aturan) saat bermain lato-lato. Baik sendiri maupun bersama temannya. Kalau lato-lato dimainkan anak usia 0-2 tahun atau 2-7 tahun, itu akan tidak optimal. Karena anak usia 0-2 tahun bermainnya cukup seperti cilukba saja, yang menstimulus indranya. Usia 2-7, mereka cenderung pada permainan yang berkhayal dan berpura-pura seperti main boneka,’’ papar Hasri.
Meski punya manfaat positif, kata Hasri, alangkah baiknya bermain lato-lato diawasi orang tua. Tak lain guna mengantisipasi terjadinya dampak negatif dan hal yang tak diinginkan pada anak. ’’Karena sebenarnya semua permainan, baik engrang atau engklek, itu punya dampak (negatif). Jadi harus diminimalisir dengan pengawasan orang tua. Takutnya kebablasan saat bercanda dengan temannya. Yang akhirnya sampai mencederai orang lain ataupun sampai bertengkar,’’ ujarnya.
Begitu pun dengan intensitas bermain lato-lato. Anak mesti diarahkan untuk tidak mengabaikan kebutuhan dan aktivitas lain sehari-seharinya. ’’Memang bagus untuk mengalihkan gadget, tapi suatu hal tanpa porsi itu ada dampaknya. Anak harus diajarkan membagi waktu porsi yang pas. Kalau liburan, mungkin boleh main selama 2 jam. Setelah itu melakukan aktivitas atau tugas sehari-harinya, seperti istirahat, ibadah, atau belajar. Over stimulus pun juga tidak baik,’’ pungkasnya. (vad/fen)
Editor : Fendy Hermansyah