Berdasarkan informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Mojokerto, jajanan berbalut biji wijen ini banyak disebut-sebut berasal dari Negeri Tirai Bambu, Tiongkok. Dari sejumlah literatur menyebutkan, onde-onde dibawa pedagang atau perantau Tiongkok yang berlabuh ke Nusantara sekitar abad 12. Bahkan, ada beberapa yang mempercayai lebih tua dari itu.
Salah satu sumber menyebutkan onde-onde pasukan Panglima Cengho yang melakukan ekspedisi ke Nusantara. Jajanan tersebut kemudian dikenalkan melalui akulturasi budaya antara pasukan Tiongkok yang menetap di Pulau Jawa dan sekitarnya.
Menurut Wikipedia, dulunya, onde-onde tak disebut langsung onde-onde, melainkan Jian Ndui. Kue ini popular saat Dinasti Tsang berkuasa. Bahkan menjadi makanan resmi daerah Changan.
Di sana, kue bulat ini disebut Ludei. Perpindahan manusia yang diikuti perpindahan kultur kuliner manusia tersebut menjadikan onde-onde akhirnya tersebar di Indonesia.
Istilah awal Onde-Onde yang berbahasa Tiongkok kemudian mengalami penyesuaian dengan lidah Nusantara. Belum diketahui pasti, sejak kapan onde-onde tercetus sebagai nama jajanan bulat dari tepung ketan. Kue ini berisi kacang hijau yang manis dan gurih. Perpaduan tepung ketan dan kacang hijau amat lekat dengan komoditinya gampang ditemui di Asia.
Oleh karena itu, onde-onde tidak saja dikenal luas di Indonesia. Negara jiran macam Malaysia, Vietnam, hingga Filipina juga mengenal jajanan satu ini.
Di Malaysia sebutannya Kuih Bom. Bedanya, terletak pada isian. Orang Malaysia mengisi kuih bom dengan parutan kelapa yang diberi pemanis. Ada pula yang diisi kacang tanah yang dihaluskan. Atau bahkan kacang merah.
Di Vietnam, jajanan ini dikenal dengan sebutan Banh Cam dan Banh Ram. Isian onde-onde Vietnam ini berupa pasta kacang, kacang hijau, ubi, jamur, bahkan daging cincang.
Untuk Banh Ram, masyarakat Vietnam sebelah utara kerap menambahkan bunga melati kering sehingga aromanya wangi dan kuat. Sedang, orang Filipina biasa menyebut onde-onde dengan istilah Butsi. (fen) Editor : Fendy Hermansyah