Di balik segala pro dan kontranya, sound horeg tampaknya telah menjadi hiburan favorit bagi sebagian masyarakat. Iring-iringan sound system raksasa bervolume keras itu kini tak pernah absen dalam berbagai pawai kebudayaan. Pada akhirnya, karnaval sound horeg mampu membentuk identitasnya sendiri, termasuk bagaimana gaya pakaian yang dikenakan bagi para pelaku dan penikmatnya.
STYLE busana dan aksesori yang dipakai dalam acara sound horeg selama ini cenderung mengarah pada gaya kasual, santai, dan khas lapangan. Fesyen ini identik dengan kaus longgar dan celana pendek yang cocok untuk bergerak leluasa. ’’Untuk sepatu, biasanya pakai jenis karet yang nyaman untuk jalan dan berdiri lama,’’ kata Bagus, pemuda asal Desa Kenanten, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto.
Menurutnya, outfit of the day (OOTD) seperti itu hanya dipakai peserta umum. Khususnya kalangan laki-laki. Lain lagi dengan para perempuan. Mereka secara bersama-sama biasanya mengenakan busana bertema tertentu yang merepresentasikan kelompoknya. ’’Contohnya model koboi, pakai topi lebar, baju flanel kotak-kotak,’’ tuturnya.
Selain pawai truk dengan susunan sound dengan volume ekstrem dan dentuman bas kuat, karnaval sound horeg diisi dengan susunan kelompok penari. OOTD yang mereka kenakan menjadi salah satu bentuk ciri khas. Selain itu, saat gelaran pawai, biasanya terdapat penari tunggal yang mengenakan busana artwear yang menonjolkan nilai estetika.
Melalui penampilan penari dengan busana yang merepresentasikan tradisi dan kebudayaan, karnaval sound horeg tak hanya menjadi hiburan rakyat. Akan tetapi juga menjadi sarana melestarikan budaya dalam kemasan kontemporer. ’’Event sound horeg menjadi upaya untuk uri-uri budaya yang sekaligus membawa dampak positif bagi masyarakat, seperti efek ekonomi untuk UMKM hingga menambah pendapatan asli desa,’’ kata Kepala Desa Cinandang, Kecamatan Dawarblandong, Agus Siswahyudi yang kerap menggelar ajang karnaval budaya dengan sound horeg. (adi/fen)
Editor : Fendy HermansyahSumber : Radar Mojokerto