’’Bahan kain akan fokus pada pemakaian jangka panjang. Ini menjadi titik berat karena generasi saat ini mulai sadar akan pentingnya menjaga lingkungan hidup,’’ jelas Safrizal Roji Tuasikal, fashion designer Mojokerto. Hal ini yang dinilai sebagai faktor pendorong mulai ditinggalkannya konsep fast fashion. Sehingga pakaian sekali pakai tampaknya mulai kurang diminati.
Untuk diketahui, fast fashion merupakan konsep industri busana yang memproduksi dalam jumlah besar serta cepat dengan mengikuti tren terkini. sehingga publik dipaksa konsumtif untuk mengikuti tren dengan bahan kain kualitas rendah yang derdampak pada kerusakan lingkungan.
Sebaliknya, kossep busana sustainability nantinya digadang-gadang hadir dengan tujuan mengurangi limbah. Safrizal menyebut, bahan flanel, scuba, dengan tekstur kenyal maupun bahan berserat alami yang mudah terurai akan banyak dipilih. ’’Jadi pakaian-pakaian ini nantinya lebih ramah lingkungan,’’ beber desainer muda ini.
Menurutnya, tren busana kedepan sudah tidak mempertimbangkan tebal tipisnya bahan kain. Pertimbangan pemakaian saat cuaca terik maupun hujan juga mualai dikesampingkan. ’’Karena masyarakat sekarang lebih banyak aktivitas di dalam ruangan ber-AC. Jadi sudah tidak lagi tergantung oleh iklim. Kecuali di negara-negara tertentu dengan iklim ekstrem, tentu harus menyesuaikan,’’ tukasnya. (vad/fen)
Editor : Fendy Hermansyah