Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Tren Hiking di Kalangan Ibu Muda Kekinian Jadi Ajang Ekspresi dan Ruang Refleksi Diri

Farisma Romawan • Minggu, 9 November 2025 | 15:30 WIB

 

 

Photo
Photo

Mendaki gunung kini telah menjadi gaya hidup di kalangan perempuan milenial maupun Gen Z. Tidak hanya bagi yang masih lajang, hiking juga banyak dilalui ibu-ibu muda yang ingin melepas penatnya dari seabrek aktivitas dan rutinitas sehari-hari. Suasana yang sejuk, udara segar alami, dan keheningan, kerap mereka jadikan ruang refleksi guna mencari ketenangan batin yang hakiki. 

Bahkan, mereka rela meninggalkan sejenak orang yang dicintainya hanya untuk menguji mental. Berbekal outfit outdoor seperti tenda, sepatu, jaket, tas carrier, hingga alat masak khusus, mereka pun tampak begitu bersemangat dalam menaklukkan puncak. Tak sendirian, sebagian mama-mama muda ini juga kerap mengajak minggir rekan sesama untuk menikmati indahnya pesona alam pegunungan. 

Tak jarang mereka rela merogoh kocek hanya untuk menyewa guide atau pemandu yang bertugas mengarahkan perjalanan pendakian mulai awal hingga akhir. Selain memudahkan perjalanan, juga untuk menjamin keselamatan mereka selama pendakian. ’’Saat di puncak gunung, rasanya bisa lepas dari beban sejenak. Seperti me-refresh kembali semangat hidup,’’ terang Putri Sriani, ibu muda asal Desa Canggu, Kecamatan Jetis. 

Sebagai pendaki pemula, destinasi puncak gunung yang dia tuju tidak harus yang tinggi. Puncak Sarah klopo di Gunung Penanggungan, Trawas, dan Puncak Lorokan di Pegunungan Anjasmoro, Pacet, yang tingginya antara 1.100 hingga 1.300 meter dibawah permukaan laut (mdpl) sudah cukup mengantarkannya pada kepuasan. 

Selain jalurnya yang relatif ramah, pemandangannya juga menakjubkan. Sehingga, cocok untuk menunjukkan eksistensi dan simbol pencapaiannya lewat foto-foto dan video yang di-upload di media sosial Instagram (IG), TikTok, hingga Facebook (FB). ’’Nggak usah yang tinggi-tinggi seperti pendaki profesional. Yang penting bisa menunjukkan panorama alam yang indah sebagai latar untuk foto-foto yang siap di-upload di medsos,’’ tandasnya.

 Tak sekadar eksistensi, mendaki gunung juga menjadi ajang bagi wanita agar tak kehilangan masa mudanya. Seperti yang dialami Lina Azzyati yang kerap menyempatkan di akhir pekan untuk menyusuri jalur pendakian. Dengan foto dan video yang dia rekam selama perjalanan, Lina juga bisa mengikuti tren forever young di media sosial. 

Memposting dirinya dengan perbedaan waktu antara saat ini dengan 10 tahun yang lalu. Hal ini untuk menunjukkan apakah ada perbedaan paras penampilannya saat dengan sebelumnya waktu masih muda. ’’Biasanya setiap minggu atau weekend, nyempatin sedikit untuk ke bukit-bukit kecil sekalian foto-foto yang bisa diperbandingkan,’’ terangnya. (far/ris)

 

Editor : Hendra Junaedi
#ekspresi #Lifestyle #ibu muda #mendaki gunung #refleksi diri