JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali merasa terdorong untuk menyenangkan orang lain dan mengiyakan permintaan yang sebenarnya membuat kita lelah. Dan menahan pendapat agar tidak menyinggung, atau berusaha tampil sempurna supaya diterima.
Perilaku ini dikenal sebagai people pleasing, yaitu kecenderungan untuk menempatkan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan diri sendiri demi mendapatkan penerimaan dan menghindari konflik.
Sekilas, menjadi orang yang selalu siap membantu memang terlihat baik. Namun, ketika hal itu dilakukan secara berlebihan, kita justru kehilangan kendali atas diri sendiri. Kita mulai merasa tertekan, mudah cemas, dan sulit mengenali apa yang benar-benar kita inginkan.
Di titik inilah penting untuk belajar melepaskan kebiasaan people pleasing dan mulai hidup lebih autentik dan jujur terhadap diri sendiri tanpa rasa bersalah. Langkah pertama untuk keluar dari pola ini adalah menyadari alasan di balik perilaku tersebut.
Banyak orang menjadi people pleaser karena takut ditolak, tidak ingin dianggap egois, atau terbiasa mengukur nilai diri dari seberapa banyak mereka disukai. Dengan memahami akar penyebabnya, kita bisa mulai memisahkan antara keinginan untuk berbuat baik dan kebutuhan untuk diterima.
Selanjutnya, belajar berkata tidak dengan penuh empati. Menolak bukan berarti jahat atau tidak peduli, tetapi itu adalah bentuk perlindungan terhadap batas diri.
Mulailah dari hal kecil, seperti menolak ajakan yang membuat kamu tidak nyaman atau menunda permintaan orang lain ketika kamu sedang butuh waktu istirahat. Semakin sering dilakukan, semakin kuat rasa percaya diri kamu dalam menentukan prioritas hidup.
Menetapkan batas (boundaries) juga menjadi langkah penting. Kamu berhak menentukan sejauh mana kamu ingin terlibat dalam kehidupan orang lain tanpa merasa terbebani.
Baca Juga: Waspadai Sleep Walking! Gangguan Tidur yang Misterius, Berikut Makna dan Penjelasannya
Sampaikan dengan jujur dan tenang ketika kamu butuh ruang. Ingat, hubungan yang sehat dibangun di atas kejujuran dan saling menghormati, bukan pengorbanan sepihak.
Selain itu, berlatih self compassion atau kasih sayang terhadap diri sendiri membantu mengurangi rasa bersalah. Sadari bahwa kamu tetap orang baik meski tidak selalu menyenangkan semua orang.
Memberi waktu untuk diri sendiri, melakukan hal yang kamu sukai, atau sekadar beristirahat adalah bentuk penghargaan terhadap diri yang sering terlupakan oleh para people pleaser.
Terakhir, hargai diri sendiri sebagaimana kamu menghargai orang lain. Validasi perasaanmu, rayakan pencapaian kecil, dan izinkan dirimu untuk tidak selalu sempurna. Hidup autentik berarti berani menunjukkan siapa dirimu sebenarnya dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada.
Baca Juga: Kelurahan Sawahan, Kecamatan Mojosari Gencarkan Sosialisasi Kesehatan Masyarakat
Melepaskan kebiasaan people pleasing memang bukan hal mudah. Akan ada rasa tidak enak, canggung, bahkan bersalah di awal. Tapi seiring waktu, kamu akan merasakan kebebasan yang selama ini hilang.
Hidup autentik bukan tentang menolak semua orang, melainkan tentang menempatkan diri di posisi yang seimbang dan di mana kamu bisa memberi tanpa kehilangan diri sendiri. AILEEN
Editor : Imron Arlado