JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Belakangan ini istilah " main character energy " tengah ramai diperbincangkan terutama di kalangan generasi muda yang aktif media sosial.
Istilah ini umumnya menggambarkan pribadi seseorang yang selalu menempatkan dirinya sebagai tokoh utama dalam kisah hidupnya sendiri layaknya tokoh utama dalam film yang menjalani hidupnya dengan penuh gaya khas.
Mulanya, fenomena ini muncul dari tren di platform TikTok dan Instagram, di mana banyak orang yang menunjukkan rutinitas harian mereka melalui video sinematik, lengkap dengan latar musik yang dramatis dan narasi tentang "menikmati hidup versi terbaik".
Sejak saat itulah, muncul pandangan bahwa tiap orang di dunia ini berhak menjadi pusat cerita di perjalanan hidupnya sendiri.
Namun, seiring dengan populernya tren tersebut, muncul pula perdebatan. Sebagian orang menganggap bahwa main character energy adalah salah satu bentuk dari self empowerment yang mendorong seseorang untuk lebih percaya diri dan menghargai dirinya.
Sementara sebagian orang lainnya menilai bahwa main character energy merupakan fenomena yang justru mencerminkan budaya narsistik baru, di mana seseorang terlalu fokus terhadap citra diri dan validasi dari dunia maya.
Jika dilihat dari sisi positif, fenomena main character energy bisa membantu seseorang untuk menghargai dirinya sendiri.
Baca Juga: Anggota Turjawali Gagalkan Narkoba Siap Edar, Kapolres Mojokerto Kota Berikan Penghargaan
Tak sedikit orang yang awalnya merasa minder, kehilangan arah, dan lebih memilih untuk sembunyi dari hiruk pikuk dunia, kemudian bangkit karena merasa terinspirasi oleh ide bahwa dirinya pantas menjadi "tokoh utama."
Fenomena ini kerap kali dihubungkan dengan istilah self empowerment, yakni kesadaran untuk mengambil kendali atas kehidupan sendiri.
Orang yang memegang prinsip main character energy biasanya menjadi seseorang yang lebih berani membuat keputusan, tidak takut menonjol, dan sangat percaya diri untuk menjalani hidupnya dengan gayanya sendiri.
Tak berhenti di situ, dalam tren main character energy juga ada unsur self love yang kuat di dalamnya.
Ketika seseorang mulai lebih peduli dengan kesehatan mentalnya, berani berpakaian sesuai gaya pribadinya, atau mengambil waktu untuk istirahat tanpa harus merasa bersalah.
Seluruh hal tersebut muncul dari keyakinan dari dalam hati orang bahwa hidupnya berharga dan layak dijalani dengan bahagia.
Akan tetapi, meski awalnya terlihat sebagai sesuatu yang positif, tren ini bisa bergeser menjadi sesuatu yang berlebihan dan semu jika dilakukan tanpa kesadaran diri.
Ketika seseorang terlalu fokus terhadap dirinya sendiri tanpa adanya kesadaran diri, resiko munculnya perilaku narsistik semakin tinggi.
Narsisme dalam konteks ini bukan sekedar suka memuji diri sendiri, tetapi juga ketergantungan terhadap validasi orang lain.
Tak sedikit orang yang memegang prinsip ini tanpa sadar menjadikan hidupnya sebagai panggung sandiwara demi mendapatkan perhatian.
Tiap momen yang dibagikan di media sosial bukan untuk kenangan, tetapi untuk pameran digital agar terlihat menarik di mata orang lain.
Jika terus dilakukan dalam jangka panjang, hal ini bisa menimbulkan tekanan sosial yang cukup serius.
Seseorang bisa merasa tertekan karena merasa dituntut oleh ekspektasinya sendiri untuk menjalani hidup dengan sempurna seperti adegan film.
Baca Juga: Desa Kemantren, Kecamatan Gedeg Latih Kader Pangan Lestari, Tingkatkan Hasil Panen Sayuran
Ketika realita tak sejalan dengan ekspektasi, ia akan dengan mudah kehilangan arah dan dirinya sendiri.
Selain itu, fenomena ini juga dapat menciptakan jarak sosial jika dilakukan tanpa adanya kesadaran diri.
Saat seseorang sibuk dengan tren main character energy dan merasa dirinya bisa melakukan segalanya sendiri karena ia adalah tokoh utama, ia bisa lupa bahwa hidupnya saling terhubung dengan orang lain.
Akibatnya, empati dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar akan perlahan-lahan menurun.
Media sosial memiliki peran yang besar dalam konteks ini, ia dipercaya dapat memperkuat main character energy.
Platform media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube mempunyai algoritma yang memprioritaskan konten visual menarik dan terkonsep.
Semakin tinggi nilai estetika sebuah video, akan semakin besar pula kemungkinan muncul di beranda banyak orang.
Budaya inilah yang kemudian semakin mendorong pengguna agar terus menampilkan versi terbaik dari diri dan hidupnya.
Media sosial juga secara tidak sadar menumbuhkan ilusi bahwa tiap orang harus memiliki "narrative aesthetic" atau penggunaan elemen-elemen estetika saat menyampaikan sesuatu agar menarik yang khas.
Padahal tidak semua kehidupan bisa dikemas menjadi kisah yang menarik setiap saat.
Dari sudut pandang psikologis, main character energy dapat dipahami melalui konsep narrative identity, sebuah gagasan yang menjelaskan bahwa manusia akan secara alami membentuk identitasnya melalui cerita yang ia ciptakan tentang dirinya sendiri.
Dari situlah dapat disimpulkan bahwa setiap orang memang butuh merasakan jika hidupnya punya arah dan makna.
Namun, di era media sosial yang semakin canggih saat ini, tren main character energy kerap kali bergeser. Cerita yang seharusnya bersifat pribadi, berubah menjadi konsumsi publik.
Baca Juga: Tutup Got Empunala Makan Korban
Seseorang mulai menilai kebahagiaannya berdasarkan jumlah suka dan komentar yang didapat dari netizen media sosial.
Dari segi sosial, tren ini menunjukkan perubahan budaya atau gaya hidup ke arah yang lebih individualistik.
Generasi saat ini cenderung lebih fokus pada pencarian makna personal dan pengembangan diri dibandingkan dengan mengikuti nilai yang dianut bersama.
Hal tersebut memang tidak sepenuhnya buruk, namun mampu membuat hubungan antar individu semakin terkikis jika keseimbangan tidak dijaga.
Main character energy sebenarnya juga bukan suatu hal yang salah atau melenceng. Konsep ini bisa membantu seseorang untuk bertahan hidup, asalkan tetap diiringi dengan kesadaran akan realita.
Baca Juga: Innova Masuk Jurang, Dua Orang Tewas
Menjadi tokoh utama dalam hidup juga bukan berarti dunia berputar di sekitar diri kita. Justru, menjadi tokoh utama berarti mengetahui arah hidup sendiri dan berani membuat keputusan, tapi tetap sadar bahwa kita adalah bagian dari cerita yang besar.
FANEZA
Editor : Imron Arlado