Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Hedonic Treadmill, Fenomena Perasaan Bahagia yang Cepat Memudar. Kenali Ciri-cirinya

Imron Arlado • Selasa, 30 September 2025 | 00:24 WIB
Fenomena Hedonic Treadmill: Perasaan Bahagia yang Cepat Memudar (Foto: Pexels)
Fenomena Hedonic Treadmill: Perasaan Bahagia yang Cepat Memudar (Foto: Pexels)

JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Banyak orang merasa bingung ketika baru saja berhasil memperoleh sesuatu yang diidamkan, seperti membeli barang baru, mendapatkan promosi, atau berlibur mewah, tetapi kebahagiaannya begitu cepat menghilang.

Fenomena ini dalam psikologi disebut sebagai hedonic treadmill atau adaptasi hedonik. Secara teori, hedonic treadmill menjelaskan bahwa manusia memiliki ''titik set kebahagiaan'' (set point) yang menjadi tingkat emosi normal mereka.

Ketika terjadi perubahan positif atau negatif dalam hidup, emosi kita akan membaik atau memburuk sementara, tetapi pada akhirnya kembali ke titik awal.

Contohnya, seseorang yang mendapat gaji tinggi atau hadiah mewah akan merasa bahagia di awal, tetapi perlahan akan terbiasa dan merasa kurang bahagia kembali.

Di Indonesia modern, fenomena ini dipengaruhi oleh budaya konsumsi dan kemudahan akses ke keuangan. Di era digital, layanan paylater, pinjaman instan, serta gaya hidup yang terus berkembang mendorong seseorang untuk berbelanja secara impulsif.

Saat kepuasan dari pembelian memudar, dorongan untuk berbelanja lagi muncul, sehingga seseorang terus ''berlari di tempat'' dalam mengejar kebahagiaan material.

Fenomena ini diperkuat oleh tekanan sosial dan media, di mana status seseorang sering dinilai dari barang yang dimiliki, seperti gadget terbaru, rumah besar, dan mobil mewah, bukan dari konten penting dalam kehidupan.

Dampak dari terjebak dalam hedonic treadmill bukan hanya rasa lelah dalam mengejar hal-hal duniawi. Orang bisa merasa kosong, cemas, atau tersisih karena merasa tidak pernah memenuhi kepuasan.

 

Hubungan sosial bisa terganggu karena banyak waktu dan energi dihabiskan untuk memenuhi standar hidup material, bukan memperkuat hubungan dengan orang terdekat.

Di sisi lain, adaptasi emosional yang cepat bisa dianggap positif, meski mengalami kegagalan atau kehilangan, seseorang bisa bangkit lebih cepat karena titik kebahagiaan kembali ke level awal.

Hedonic treadmill mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak berasal dari seberapa banyak pencapaian atau barang yang kita kumpulkan, melainkan ketika kita mampu menghargai hal-hal kecil dan menemukan makna dalam hidup.

Dalam konteks ini, kebahagiaan bukan hanya tergantung pada jumlah, tetapi juga pada cara kita memandang dan menghargai hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari.

Cara Menghentikan Hedonic Treadmil

  1. Latih Rasa Syukur

Fokus pada apa yang sudah dimiliki, bukan apa yang belum. Menulis jurnal syukur setiap hari bisa memperkuat kesadaran akan kebahagiaan sederhana.

  1. Mindfulness (Kesadaran Penuh)

Dengan hidup lebih hadir di momen sekarang, menikmati momen kecil, mengurangi kebiasaan hidup otomatis.

  1. Variasi dalam Pengalaman

Hindari rutinitas, cobalah aktivitas baru agar adaptasi emosional tidak terjadi terlalu cepat.

  1. Lakukan Kegiatan Bermakna

Berkontribusi, membantu orang lain, mengejar tujuan hidup yang lebih besar daripada kesenangan sesaat.

  1. Batasi Konsumsi Materi dan Media Sosial

Beri jeda dari paparan iklan dan perbandingan sosial yang memicu keinginan terus-menerus.

 

RIZMA/FADYA

Editor : Imron Arlado
#Hedonic Treadmill #bosan #cara menghentikan #dampak #kebahagiaan #bahagia