Mojokerto terkenal dengan gudangnya perajin sepatu. Tak salah jika banyak produk alas kaki bikinan warga bumi Majapahit ini merajai pasar online. Baik level nasional maupun internasional. Tak hanya dari segi desain yang estetis, pilihan bahan yang berkualitas dan warna yang ikonik menjadi pertimbangan para produsen dalam menciptakan produk. Khususnya sepatu jenis kasual yang banyak diminati kawula muda.
Salah satu produsen sepatu yang tengah melejit setahun terakhir adalah pasangan suami istri (pasutri) Muzaki Bustom-Amiati Puspitasari. Produksi sepatu sporty warga Kelurahan/Kecamatan Prajurut Kulon, ini kini telah mencapai ratusan ribu pasang dalam sebulan.
Merintis sejak Oktober 2023, Bustom dan Ami, sapaan akrabnya, kini telah mampu menciptakan 55 varian sepatu merek Saganext. ’’Kami murni mengandalkan branding. Jadi, kualitas bahan dan konsep desain yang kami utamakan untuk pelanggan. Kami tidak pernah mengiklankan di marketplace atau media sosial, metode pemasarannya murni organik,’’ ungkap Bustom.
Agar diminati, Bustom memperhatikan betul pembuatan sepatunya. Dimulai dari pilihan bahan outsole-nya yang memilih material phylon eva karena terasa ringan dan nyaman untuk beraktivitas. Pun juga upper yang menggunakan material mesh atau serat kain sintetis, seperti poliester dan nilon yang dirajut membentuk struktur jaring-jaring.
Dua bahan tersebut yang kemudian dipadupadankan dengan desain yang berkarakter dan warna yang ikonik. Bahkan, desain sepatunya membentuk story telling yang menarik. Sehingga membuat para customer-nya lebih penasaran. ’’Kami punya desainer sendiri. Setiap bulan pasti ada rilis artikel desain sepatu baru yang membentuk sebuah cerita. Pilihan warna juga meyesuaikan tren, seperti warna turquoise yang estetis untuk pemakai wanita,’’ terangnya.
Agar lebih efektif dikenal orang, Bustom menyerahkan sepenuhnya pemasaran kepada sang istri, Ami. Di mana, wanita 32 tahun ini aktif mempromosikan sepatunya lewat media sosial Tiktok, Instagram, dan marketplace Shopee. Tak hanya posting, ibu dua anak ini juga aktif nge-live dengan durasi satu jam selama dua kali dalam sehari. Termasuk mengandalkan afiliator yang mampu menjual hingga 200 pasang dalam sehari.
’’Kami ada talent sendiri yang biasanya live di Tiktok. Tidak usah terlalu banyak, sehari cukup dua kali live untuk menjaga konsistensi,’’ imbuh lulusan sarjana ekonomi ini. Dari strategi itu, pasutri ini mampu meruap cuan hingga ratusan juta dalam sebulan. Dengan asumsi 2.800 hingga 4.000 pasang sepatu mampu terjual dalam sehari. Dengan harga yang dipatok antara Rp 115 ribu hingga Rp 184 ribu per pasang.
Meski demikian, baik Bustom maupun Ami belum merasa puas. Mereka masih terus mengembangkan usaha UMKM ini agar lebih dikenal lagi. Khususnya dalam menciptakan produk sepatu baru yang sasarannya adalah market internasional. ’’Beberapa customer kami sudah ada yang dari Malaysia dan Singapore. Terus terang saja kami dituntut meng-update desain dan jenis sepatu yang ikonik dengan tidak meniru produk yang sudah berjalan,’’ pungkasnya. (far/ris)
Editor : Hendra Junaedi