JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Ribuan tahun yang lalu sebelum zaman berevolusi menjadi peradaban modern seperti saat ini, terdapat satu bangsa kuno yang dikenal sebagai Bangsa Romawi.
Bangsa Romawi juga dianggap sebagai peradaban kuno yang paling maju dalam bidang arsitektur, hukum, dan kebersihan.
Mereka membangun sistem kebersihan atau sistem sanitasi publik seperti aqueduct (saluran air), pemandian umum, dan toilet bersama.
Namun dibalik kejayaannya, bangsa Romawi Kuno memiliki kebiasaan unik yang mungkin akan terdengar aneh dan sulit diterima oleh masyarakat modern, yakni mencuci baju dengan menggunakan urine.
Hal ini bukan karena mereka jorok atau semacamnya. Tetapi karena urine memiliki manfaat kimiawi yang dapat membersihkan sekaligus menghilangkan noda dan kotoran di kain.
Urine manusia mengandung zat amonia (NH³) yang berasal dari urea yang seiring berjalannya waktu terurai hingga menjadi zat karena reaksi bakteri.
Urine manusia disini tidak semata-mata urine segar yang baru dikeluarkan langsung digunakan untuk mencuci. Namun, urine akan dicampur dengan secukupnya air dan akan mengalami masa fermentasi untuk memaksimalkan kandungan zat amonia.
Amonia adalah zat kimia yang yang bersifat basa atau alkali dan efektif dalam melarutkan lemak, minyak, dan noda membandel dari kain. Cara kerja zat amonia juga disebut memiliki cara kerja yang sama seperti deterjen alkali di masa kini.
Sulitnya akses sabun cuci pada zaman romawi membuat para masyarakat akhirnya menggunakan urine sebagai solusi pembersih yang efektif, alami, melimpah, dan terjangkau di seluruh kalangan.
Bahkan masyarakat romawi menyimpan urinenya masing masing di dalam wadah khusus atau toilet umum yang sudah disiapkan oleh pemerintahan romawi agar masyarakat dapat menyimpannya secara kolektif, serta bisa dimanfaatkan oleh tukang cuci atau fullones.
Baca Juga: Telusuri Pagar dan Struktur Bintang Mandala
Para fullones bekerja di sebuah bangunan yang disebut dengan fullonica. Fullonica sendiri merupakan tempat pencucian khusus semacam laundry ala bangsa romawi kuno yang dibangun untuk para fullones atau tukang cuci profesional.
Pencucian pada masa romawi kuno meliputi beberapa proses yakni kain atau pakaian yang akan dicuci harus direndam terlebih dahulu selama beberapa menit dalam larutan campuran urine dan air yang telah difermentasi.
Setelah direndam, para fullones akan menginjak-injak kain yang berada dalam rendaman urine sambil berdiri. Kegiatan ini dilakukan agar kotoran dalam serat kain terangkat.
Dua proses terakhirnya adalah pembilasan dan pengeringan serta pewarnaan. Kain yang telah dicuci dengan urine akan dibilas dengan air segar dan dikeringkan serta akan diwarnai ulang atau diputihkan dengan tanah liat putih (kaolin) untuk hasil yang lebih cerah.
Karena urine telah menjadi komoditas ekonomi yang sangat penting dan digunakan dalam produksi, pemerintahan Romawi kuno yang saat itu dipimpin oleh Kaisar Vespasianus akhirnya membuat suatu kebijakan yakni memberlakukan pajak urine yang disebut vectigal urinae.
Urine yang berada dalam toilet umum atau urinals publik kemudian dikumpulkan dan diperjualbelikan kepada para pekerja laundry.
Bukti bahwa praktik ini nyata dilakukan dan bukan mitos dapat dilihat dari penemuan arkeologis para ilmuwan yang menemukan bangunan fullonica di kota Pompeii.
Baca Juga: Membentuk Generasi Emas
Bangunan tersebut masih sangat lengkap dengan bak-bak pencucian yang masih utuh, saluran air, sisa-sisa struktur tempat menginjak-injak pakaian, dan lukisan dinding atau fresco yang menggambarkan proses-proses pencucian.
Selain di Pompeii, situs fullonica juga ditemukan di berbagai kota lainnya seperti Ostia Antica dan di kawasan Roma.
Penemuan ini dapat memperkuat bukti bahwa praktik ini dilakukan secara terstruktur, legal, dan meluas di seluruh kekaisaran romawi.
FANEZA
Editor : Imron Arlado