JAWA POS RADAR MOJOKERTO -Bahasa terus mengalami perubahan dengan seiring waktu, salah satu bentuk perubahan paling menarik terjadi di kalangan anak muda. Dalam beberapa tahun terakhir, istilah “kalcer” mulai ramai digunakan di media sosial dan percakapan sehari-hari.
Istilah ini merupakan plesetan dari kata “culture”, namun memiliki makna yang jauh lebih luas dan kontekstual bagi generasi sekarang.
“Kalcer” adalah istilah gaul yang berasal dari kata culture yang artinya budaya dalam bahasa inggris. Dalam konteks bahasa gaul Indonesia, terutama di kalangan anak muda, ‘‘kalcer’’ sering digunakan untuk merujuk pada kegiatan nongkrong atau hangout sambil menikmati budaya populer.
Biasanya kegiatan ini juga berkaitan dengan media sosial, di mana orang suka membagikan momen “kalcer” mereka lewat Instagram atau TikTok.
“Kalcer” telah berevolusi menjadi semacam gaya hidup atau lifestyle choice. Hal ini lebih dari sekedar nongkrong, melainkan ini tentang ‘merasakan vibes’ dan mengekspresikan diri dalam suasana yang estetik, modern, dan kadan terinspirasi budaya luar.
Dalam penggunaan ini, kalcer tidak hanya merujuk pada budaya secara umum, melainkan sudah menjadi simbol status sosial, selera, hingga identitas kelompok tertentu, terutama generasi z dan millenium muda.
Generasi muda kini menciptakan istilah-istilah baru dengan cepat, sering kali memadukan bahasa Indonesia, Inggris, serta unsur lokal lainnya. Istilah ini digunakan bukan hanya sebagai sarana komunikasi, tetapi juga sebagai cara menegaskan identitas.
“Kalcer” misalnya, bisa digunakan dengan nada serius, satir, maupun ironi. Kata ini bisa menyiratkan kekaguman, lelucon, atau bahkan sindiran terhadap gaya hidup yang terlalu “try hard” dalam mengikuti tren.
Dalam dunia yang serba cepat dan penuh paparan media, istilah-istilah ini menjadi cara untuk merasa terhubung, membedakan diri, atau sekadar ikut dalam dinamika sosial yang sedang tren.
“Kalcer” adalah bukti bahwa bahasa bukan sesuatu yang statis. Ia hidup, berkembang, dan dipengaruhi oleh zaman, teknologi, dan lingkungan sosial.
Istilah ini lahir dari ruang-ruang digital—Twitter, TikTok, Instagram—dan menjadi bagian dari cara generasi muda mengekspresikan diri.
Oleh karena itu, ketika kita mendengar istilah seperti “kalcer”, jangan buru-buru menilai hanya sebagai guyonan saja. Di baliknya, ada dinamika sosial, identitas, dan kreativitas bahasa yang menggambarkan zaman yang sedang kita jalani.
Istilah “kalcer” mungkin terdengar sederhana, namun ia membawa makna yang kompleks. Dari plesetan kata, ia menjelma menjadi simbol identitas dan gaya hidup. NIYA
Editor : Imron Arlado