Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Miris! Indonesia Jadi Negara Fatherless Tertinggi, Ini Dia Penjelasan dan Penyebabnya yang Jarang Diketahui

Imron Arlado • Minggu, 20 Juli 2025 | 23:39 WIB
Di dunia ini, hampir seluruh anak tumbuh bersama ayahnya. Namun, beberapa di antara mereka merasa seperti tidak mengenali ayahnya sendiri. Sumber foto: Google
Di dunia ini, hampir seluruh anak tumbuh bersama ayahnya. Namun, beberapa di antara mereka merasa seperti tidak mengenali ayahnya sendiri. Sumber foto: Google

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Di dunia ini, hampir seluruh anak tumbuh bersama ayahnya. Namun, beberapa di antara mereka merasa seperti tidak mengenali ayahnya sendiri.

Mereka memang tumbuh bersama ayah dan ayah pasti ada di setiap harinya. Tetapi tidak benar-benar hadir menjadi figur ayah. Terkadang, ayah hanya terasa seperti orang asing yang secara kebetulan berada dalam satu atap.

Ia tidak mengetahui mimpi, rencana harian, apalagi isi hati anaknya. Di sinilah istilah "Indonesia Fatherless Country" melekat pada bangsa Indonesia.

Secara umum, istilah fatherless merupakan kondisi saat seorang anak tumbuh tanpa peran aktif seorang ayah dalam hidupnya, baik secara fisik maupun psikologis.

Istilah ini sangat relevan dengan Indonesia karena Indonesia disebut sebagai negara dengan tingkat fatherless tertinggi di Asia Tenggara berdasarkan data BKKBN dan NGO keluarga.

Dilansir dari survei BKKBN pada tahun 2025 yang menunjukkan bahwa sekitar 24 juta anak di Indonesia tumbuh tanpa peran aktif seorang ayah dalam hidupnya baik secara fisik maupun emosional.

Terjadinya hal ini berkaitan dengan budaya patriarki dan standar sikap laki-laki yang telah ditetapkan oleh masyarakat, yaitu laki-laki harus kuat, tegas, dan keras.

Bagi para lelaki yang memiliki ego cukup tinggi, menunjukkan emosinya sama dengan mengakui bahwa dirinya lemah. Pada akhirnya ayah lebih memilih untuk menjauhkan diri dari keintiman emosional dengan anaknya sendiri.

Selain itu, hustle culture dan tekanan ekonomi juga dapat memicu terjadinya fenomena fatherless. Hustle culture sendiri adalah suatu budaya kerja keras yang berlebihan dan mendorong seseorang untuk bekerja secara intens, bahkan hingga melampaui batas jam kerja normal.

Mereka seringkali mengabaikan fisik dan mentalnya yang sudah memberi sinyal lelah, serta mengabaikan keseimbangan kehidupan pribadi.

 

Baca Juga: Sering Diberi Harapan Tapi Nggak Pernah Jelas? Kenali Fenomena Breadcrumbing dalam Dunia Percintaan 

Maraknya kasus perceraian di Indonesia juga seringkali membuat seorang anak kehilangan peran ayah, tak jarang seorang ayah atau ibu yang telah bercerai biasanya menutup akses anaknya untuk bertemu satu sama lain.

Pernikahan dini juga memiliki pengaruh yang cukup besar dalam fenomena ini. Seorang ayah yang masih dalam usia muda dan belum matang seringkali kabur dari tanggung jawab.

Di dunia ini tidak sedikit lelaki yang hanya menginginkan kenikmatan sesaat, namun ketika anak terlahir di dunia, mereka lari dari tanggung jawab sebagai seorang ayah dengan alasan belum siap menanggung tanggung jawab yang besar. Padahal mereka bersenang-senang saat melakukan.

Selama ini, di budaya kita dan sistem pendidikan serta media, pengasuhan anak seringkali dianggap sebagai “wilayah perempuan”.

Ketika ada seminar parenting, kelas pra-nikah, ataupun kampanye pola asuh, pesertanya didominasi oleh para ibu atau calon ibu. Ayah atau calon ayah dianggap tidak perlu terlibat dan hanya menjadi “penggembira” saja.

Hal ini mengakibatkan para lelaki memiliki pengetahuan yang dangkal tentang kebutuhan emosional anak. Mereka tidak mengetahui bagaimana cara menjalin kedekatan dengan anak dan bagaimana caranya menjadi sosok ayah yang suportif.

Seorang ayah umumnya sering berpikir bahwa tugasnya hanya mencari dan memberi nafkah. Mereka menganggap dengan uang dan fasilitas yang mereka berikan tanpa kehadirannya anak bisa selalu bahagia.

Kondisi ini dapat memberi dampak buruk pada anak, baik anak perempuan maupun laki-laki. Tanpa kehadiran sosok ayah, anak laki-laki akan mudah kehilangan arah karena merasa tidak memiliki panutan.

Mereka akan lebih mudah terbawa arus toksik dari dunia luar dan memiliki pribadi yang keras, egois, dan acuh tak acuh.

 

Baca Juga: Desa Singowangi, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto,Dorong Kemandirian dan Wirausaha Masyarakat lewat Tanam Jagung

 

Sedangkan untuk anak perempuan, mereka akan terus mencari figur ayah dalam hubungan romantis. Mereka akan lebih mudah terjun dalam relasi yang tidak sehat dan akan selalu merindukan validasi yang tak pernah mereka dapat.

Studi psikologis telah menunjukkan dengan jelas bahwa kehadiran emosional ayah akan sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak secara kognitif, sosial dan psikologis.

Anak yang dekat dengan ayahnya akan cenderung memiliki pribadi yang lebih percaya diri, mudah membangun hubungan yang sehat, dan lebih mudah mengatur emosi pribadi.

FANEZA

 

 

 

 

Editor : Imron Arlado
#ayah #pernikahan dini #perceraian #Indonesia Fatherless Country #fatherless #bkkbn #peran ayah #NGO Keluarga #perempuan #laki-laki #patriarki #parenting #hustle culture