Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Fenomena Quiet Quitting, Karyawan yang Menyelesaikan Tugasnya Tanpa Menjalankan Pekerjaan Tambahan

Imron Arlado • Selasa, 8 Juli 2025 | 03:07 WIB
Fenomena “Quiet Quitting” belakangan ini menjadi perbincangan banyak orang terutama di dunia kerja. Sumber foto: Google
Fenomena “Quiet Quitting” belakangan ini menjadi perbincangan banyak orang terutama di dunia kerja. Sumber foto: Google

JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Fenomena “Quiet Quitting” belakangan ini menjadi perbincangan banyak orang terutama di dunia kerja.

Fenomena ini sendiri didefinisikan sebagai kejadian yang merujuk pada sikap individu yang membatasi kehidupan kerjanya dengan kehidupan pribadinya.

Fenomena ini muncul ketika seorang karyawan tetap bekerja namun hanya mengerjakan atau menyelesaikan tugas-tugas yang diwajibkan, tanpa mengambil pekerjaan tambahan atau lembur, serta tidak membawa pekerjaan di luar jam kerja.

Jika dilihat secara sekilas, fenomena quiet quitting memang tampak seperti gaya bekerja yang ‘malas’. Namun sebenarnya, quiet quitting merupakan salah satu langkah untuk menerapkan work-life balance.

 

 

Selain diterapkan untuk menghasilkan work-life balance atau kehidupan kerja yang seimbang dengan kehidupan pribadi, fenomena quiet quitting juga dipilih sebagai respons karyawan terhadap budaya kerja yang terlalu menuntut loyalitas tanpa timbal balik yang setara.

Pekerja memilih respon ini dengan harapan dapat menikmati waktu pribadi mereka untuk menjaga kesehatan mental, dan meningkatkan kualitas hidup secara menyeluruh setelah menghadapi tuntutan pekerjaan yang berat dan tanpa apresiasi yang sepadan.

Hal ini juga bisa terjadi akibat lingkungan kerja tidak mendukung, jenjang karir yang tidak jelas dan kompensasi dari perusahaan yang tidak setara dengan beban kerja yang ditanggung.

 

 

Orang yang menerapkan gaya bekerja quiet quitting pada umumnya bisa ditandai dengan ketidak aktifannya dalam mengikuti diskusi atau kegiatan kantor di luar jam kerja, serta kurang antusias mengejar prestasi dan promosi.

Selain itu, bisa ditandai juga dengan jarang mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh perusahaan, menurunnya produktivitas serta kontribusi dalam tim, dan selalu pulang kerja tepat waktu untuk menghindari lembur.

Quiet quitting adalah suatu kejadian yang memiliki sisi pro dan kontra. Beberapa orang menganggap bahwa quiet quitting dapat membawa dampak positif dalam kehidupan.

Namun tak jarang juga orang-orang menganggap bahwa hal ini dapat membawa dampak buruk dalam kehidupan terutama kehidupan kerja.

Berikut ini beberapa dampak quiet quitting yang jarang diketahui banyak orang!

 

Dampak Positif Quiet Quitting

  1. Dapat membantu menemukan batas kerja yang sehat

Fenomena ini tentu saja dapat membantu seseorang untuk tahu atau menyadari batasan antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadinya agar kesehatan mentalnya tetap terjaga. Biasanya mereka paham mana pekerjaan yang wajib dikerjakan dan mana pekerjaan yang dapat mereka tolak.

 

 

  1. Menjadikan sistem kerja lebih adil

Selain dapat menemukan batas kerja yang sehat, hal ini juga dapat menjadi sinyal dari karyawan untuk perusahaan bahwa sistem kerja sudah mulai terlalu menuntut dan kurang sehat.

Sehingga dengan respon quiet quitting, karyawan berharap perusahaan akan lebih adil dan tidak mengeksploitasi karyawan.

  1. Menghindari ledakan burnout yang ekstrim

Quiet quitting juga terkadang bisa menjadi ‘Rem’ untuk mencegah seseorang agar tidak meledak secara tiba-tiba. Contohnya umumnya seperti resign mendadak, dan terkena gangguan mental akibat beban kerja yang terlalu berat.

 

 Baca Juga: Paro Tahun, Pembangunan Masih Mandek

 

Dampak Negatif Quiet Quitting

  1. Komunikasi yang pasif dan agresif

Pekerja yang merasa dirinya tidak dihargai dan tidak menyuarakannya biasanya akan melampiaskan perasaannya dengan sikap pasif-agresif seperti menyindir, merespon dengan dingin, dan lambat mengerjakan instruksi.

  1. Munculnya budaya kerja “asal jadi”

Hal ini dapat terjadi ketika seseorang berhenti peduli dan hanya bekerja seperlunya sehingga rekan kerja lain dapat terpengaruh untuk melakukan hal yang sama dan terciptalah budaya kerja asal jadi.

  1. Isolasi sosial di lingkungan kerja

Hal ini mulanya terjadi karena pekerja jarang melibatkan dirinya ke dalam acara-acara yang diselenggarakan perusahaan, sehingga komunikasi menjadi pasif, lebih formal, dan menimbulkan suasana yang canggung antar rekan kerja.

 

 Baca Juga: Ditahan Kejaksaan, Dua Tersangka ASN Pemkot Belum Diberhentikan

 

Nah, itu dia uraian singkat mengenai fenomena quiet quitting. Menurutmu fenomena ini termasuk bentuk perlawanan halus terhadap sistem kerja saat ini atau bentuk dari self-care?

FANEZA

 

 

 

Editor : Imron Arlado
#Quiet quitting #fenomena quiet quitting #Lifestyle #dunia kerja #dampak positif #dampak negatif