JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Pernahkah kamu menyesal setelah belanja dengan impulsif? Fenomena ini banyak terjadi di era serba praktis ini. Baik pelajar, pekerja kantoran, orang tua, sampai lansia pernah terjebak dalam situasi membeli sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan.
Di masa digital ini, godaan belanja semakin kuat dengan adanya promo besar, flash sale, dan diskon di berbagai marketplace. Hal tersebut akan menimbulkan pertanyaan sederhana: ''Beli ini karena butuh atau hanya ingin?’’
Sebenarnya, takaran butuh dan ingin setiap orang pada suatu barang pasti berbeda. Ketika kita butuh barang tersebut, kita akan merasa bahwa barang tersebut merupakan sesuatu yang penting, mendesak, atau berfungsi dalam jangka pasang.
Sementara ketika kita ingin suatu barang, maka kita akan menilai barang tersebut adalah sesuatu yang menyenangkan, menarik, atau memuaskan secara emosional namun untuk membelinya masih bisa ditunda.
Contohnya adalah ketika kita membeli pakaian, obat, atau perlengkapan sekola, kita membeli barang-barang tersebut karena butuh. Berbeda dengan ketika kita membeli barang fashion kekinian atau gadget baru padahal yang lama masih berfungsi, hal tersebut didasari dengan keinginan.
Membeli sesuatu berdasarkan keinginan bukanlah hal buruk. Namun, jika dilakukan secara terus menerus tanpa kendali, efeknya akan menjadi serius. Dimulai dengan kebocoran finansial karena tabungan yang tak kunjung terkumpul karena gaji yang terasa cepat habis.
Kita juga akan merasa stres karena munculnya rasa bersalah, penyesalan, hingga overthinking setelah belanja. Barang-barang di rumah pun akan menumpuk karena jarang digunakan atau bahkan tidak pernah dipakai.
‘’Kita sering beli untuk merasa lebih baik, bukan karena benar-benar butuh barang itu,’’ kata Dr. Kit Yarrow, seorang psikolog konsumen. Perilaku belanja dengan impulsif sering dipicu oleh perasaan bosan, stress, atau ingin mengisi kekosongan, tambahnya.
Tips Sederhana Untuk Menahan Godaan Belanja
- Tunda Selama 24 Jam
Sebelum membeli sesuatu yang sifatnya bukan kebutuhan pokok, tunda terlebih dahulu minimal 24 jam. Hal ini berguna untuk memberi ruang emosi agar tenang dan memungkinkan kita agar berpikir lebih rasional.
Setelah sehari, banyak orang yang merasa ''tidak terlalu ingin’’ membeli barang tersebut, karena ternyata keinginan membeli barang tersebut hanya sesaat alias impulsif.
- Tanya Pada Diri Sendiri: ''Jika Tidak Diskon, Apa Masih Mau Beli?’’
Diskon memang menggoda, tetapi harga murah tidak bisa menjadi alasan yang cukup untuk membeli barang yang tidak dibutuhkan. Pertanyaan ini dapat membantu untuk memilah antara kebutuhan asli dan dorongan konsumtif yang dimanipulasi oleh promosi.
- Ubah ''Keranjang Belanja’’ Menjadi Wishlist
Jika kita masih sering ‘iseng’ menaruh barang ke keranjang saat sedang melihat-lihat online shop, mulai pindahkan ke daftar wishlist terlebih dahulu.
Dengan begitu, kita tetap bisa memantau barang tersebut tanpa tekanan untuk segera membeli.Setelah beberapa hari, kita bisa menilai ulang apakah barang tersebut benar-benar layak untuk dibeli.
- Gunakan Aturan 50:30:20
Dalam mengelola keuangan, ada aturan sederhana yang bisa digunakan.
- 50% untuk kebutuhan pokok (makan, sewa, transportasi)
- 30% untuk keinginan (hiburan, belanja pribadi)
- 20% untuk tabungan atau investasi
Jika dirasa bagian ''keinginan’’ sudah lebih dari 30%, kita bisa berhenti dan mulai mengevaluasi pengeluaran.
Menahan godaan belanja adalah tentang mengendalikan diri atas keputusan keuangan diri sendiri. Kita tetap bisa menikmati hal-hal kecil yang menyenangkan dengan cara yang sadar, sehat, dan penuh tanggung jawab. FADYA
Editor : Imron Arlado