Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Tren Bekerja Secukupnya, Apa Dampak Quiet quitting Bagi Perusahaan?

Imron Arlado • Sabtu, 28 Juni 2025 | 03:29 WIB
Tren Bekerja Secukupnya, Apa Dampak Quiet quitting Bagi Perusahaan?. sumber foto: pinterest
Tren Bekerja Secukupnya, Apa Dampak Quiet quitting Bagi Perusahaan?. sumber foto: pinterest

Jawa Pos Radar Mojokerto – Istilah quiet quitting akhir-akhir ini sedang populer dalam kalangan anak muda. Istilah ini merujuk pada karyawan atau pekerja yang berhenti diam-diam atau tenang.

 

Quiet quitting bukanlah istilah yang merujuk pada resign atau keluar dari perusahaan, tetapi melakukan pekerjaan dengan apa yang sudah tertera di kontak dan sesuai dengan tugas mereka. Mereka yang menerapkan istilah ini tidak berusaha untuk memajukan karir dan mengejar promosi.

 

Hal ini berarti bahwa karyawan atau pekerja akan tetap melakukan pekerjaan atau tanggung jawab, tetapi tidak melakukan aktivitas diluar job desk atau tugas mereka. Secara sederhana, istilah quiet quitting berarti bekerja secukupnya tetapi tidak melakukan pekerjaan tambahan yang tidak dibayar atau dihargai.

 Baca Juga: Desa Jrambe, Kecamatan Dlanggu Manfaatkan Tanah Kas Desa untuk Lapak Dagang bagi Warga

Contoh kecil dari quiet quitting adalah ketika bos perusahaan meminta seorang karyawan atau pekerja untuk melakukan lembur semalaman tanpa bayaran. Karyawan yang menerapkan quiet quitting akan menolak, karena hal tersebut akan membuang-buang waktu, tenaga, pikiran, dan mental.

 

Namun, jika para pekerja menerapkan quiet quitting, apa dampak bagi perusahaan? Berikut adalah dampak yang akan terjadi pada perusahaan jika pekerjanya menerapkan quiet quitting.

 

1. Penurunan Kinerja Pada Tim

 Baca Juga: Berpotensi Muncul Tersangka Baru

Para karyawan atau pekerja yang menerapkan istilah quiet quitting akan menyebabkan penurunan kinerja pada perusahaan maupun tim. Karena, para karyawan akan melakukan pekerjaan yang minimum dan cenderung tidak aktif terlibat pada tim.

 

Selain itu, para karyawan juga tidak bisa bersikap inisiatif dan memberikan ide-ide cemerlang mereka untuk perusahaan. Dalam hal ini, progress tim dapat menurun yang menyebabkan penurunan semangat kerja tim dalam sebuah proyek.

 

2. Menurunnya Kreativitas dan Inovasi

 

Dampak kedua yang akan terjadi pada perusahaan adalah kurangnya inovasi dan kreativitas pada perusahaan. Karena, inovasi dan ide yang cemerlang datang dari karyawan yang hadir, terlibat, dan memiliki peran penting dalam perusahaan.

 Baca Juga: Proyeksi Belanja Daerah Membengkak Rp 2,966 Triliun

Namun, saat para karyawan atau pekerja menerapkan quiet quitting, perusahaan akan mengalami kehilangan yang namanya ide dan inovasi unik dari para pekerja. Bahkan, hal ini dapat menurunkan profit atau keuntungan bagi perusahaan jika tidak memiliki ide yang baru.

 

3. Dapat Meningkatkan Beban Karyawan Lain

 

Mereka yang menerapkan quiet quitting akan membuat beban kerja karyawan lain bertambah. Ketika memilih quiet quitting, beban kerja tersebut akan beralih kepada karyawan lain yang lebih aktif, sehingga mengalami penumpukan pekerjaan.

 

Ketika hal ini terus-terusan terjadi, maka akan berdampak negatif bagi perusahaan. Mulai dari banyak pekerjaan yang tidak terselesaikan dan banyaknya komplain dari karyawan yang mendapatkan pekerjaan menumpuk.

 Baca Juga: Tak Terawat, Lampu Hias Trotoar Lenyap

4. Konflik Antar Tim

 

Ketika pekerjaan sudah tertumpuk pada karyawan lainnya, maka akan menimbulkan protes. Hal ini dapat menjadi pemicu konflik atau argument pada tim. Karyawan yang mendapatkan beban dari karyawan lain akan menjadi sumber konflik interpersonal.

 

Hal tersebut membuat suasana bekerja yang tidak nyaman dan tidak sehat. Selain itu akan membuat lebih rentan frustasi terhadap rekan kerja dan atasan. Konflik yang terjadi juga dapat mengganggu produktivitas dalam bekerja.

 

Editor : Imron Arlado
#Meningkatkan Beban Karyawan Lain #Quiet quitting #penurunan kinerja #Konflik Antar Tim #Menurunnya Kreativitas dan Inovasi #Lifestyle #bekerja #gaya hidup #dampak quiet quitting