JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Di era yang serba digital ini, teknologi telah menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari. Khususnya media sosial yang sering kali menjadi pelarian di kala rasa jenuh melanda.
Kegiatan bermedia sosial seperti membagikan konten atau sekadar menggulir linimasa mampu meningkatkan kembali semangat dalam diri. Media sosial yang banyak digunakan antara lain, Tiktok, WhatsApp, Instagram, Facebook, dan YouTube.
Namun, ketika melakukan aktivitas tersebut, terkadang seseorang cenderung tidak sadar memiliki kebiasaan membuka ulang unggahan atau story miliknya sendiri terus-menerus sebelum hilang.
Kebiasaan ini disebut juga dengan istilah self-stalking, kebiasaan “menguntit” diri sendiri di media sosial. Seseorang yang memiliki perilaku seperti ini biasanya mengevaluasi dan memantau tampilan dirinya sendiri di depan orang lain.
Meski tampak sepele, kebiasaan ini dapat menggambarkan bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri, memproses emosi, hingga mencari validasi. Menoton ulang story sendiri menjadikan seseorang merasa lebih percaya diri untuk tampil menarik sesuai citra yang ditampilkan kepada publik.
Perilaku Self-stalking Menurut Psikolog
Menurut para ahli, kebiasaan self-stalking merupakan perilaku yang cukup umum dalam era serba digital seperti sekarang selama tujuannya jelas dan tidak dilakukan secara berlebihan.
Contohnya, seseorang ingin melihat respon orang lain, memastikan tampilan unggahan atau story tertata rapi, atau merasa puas terhadap hasil unggahan.
Namun, jika kebiasaan self-stalking dilakukan secara berlebihan hingga menyebabkan ketergantungan terhadap umpan balik dari media sosial, dapat memicu munculnya dampak negatif pada kesehatan mental seseorang.
Selain itu, perilaku self-stalking juga menyimpan makna psikologis yang menarik, diantaranya:
Mencari Validasi Orang Lain
Perilaku self-stalking berhubungan dengan kebutuhan seseorang untuk mendapat penerimaan, pengakuan, atau status sosial dari orang lain. Hal ini dapat berupa keinginan untuk selalu diakui, diterima, hingga meningkatkan kedudukan sosial.
Rasa Puas Diri
Ketika seseorang melihat unggahan dirinya di media sosial, terdapat rasa kepuasan tersendiri atas penampilan sesuai citra yang ditampilkan kepada publik. Ini bisa melepas dopamin atau hormon bahagia yang memuat seseorang merasa senang.
Mengevaluasi Diri
Kebiasaan self-stalking biasanya dilakukan untuk mengevaluasi hingga memastikan tampilan unggahan atau story tertata rapi.
Branding Digital
Seseorang yang kerap menonton ulang kontennya cenderung memiliki perasaan cemas hingga keinginan kuat untuk mengatur kesan. Ini bisa berupa branding digital seseorang dalam membangun strategi untuk memelihara identitas di media sosial.
DINDA
Editor : Imron Arlado